BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah msalah besar di Negara berkembang. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita pada puncak produktivitasnya (Sarwono Prawirohardjo, 2000). Angka kematian ibu maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi kesehatan ibu dan anak, kondisi kesehatan lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan lingkungan. Tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, inu waktu melahirkan dan masa nifas.

Dalam hal ini bidan merupakan ujung tombak pemberi pelayanan kesehatan khususnya kepada masyarakat senantiasa berupaya meningkatkan mutu pelayanan sesuai standar professional. Untuk dapat memberikan asuhan kebidanan yang baik dituntut adanya tenaga bidan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan, ketramppilan, pelayanan serta professional sehingga didapatkan pelayanan kebidanan yang bermutu, ilmiah dan bertanggung jawab.

Pada hasil SKRT 1995 angka kematian ibu maternal sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2000 diupayakan penurunan angka kematian ibu menjadi 225 per 100.000 kelahran hidup (Profil Kesehatan Indonesia, 1997). Tingginya angka kematian di Indonesia disebabkan oleh persalinan resiko tinggi yang terdiri dari akibat perdarahan 30,5%, infeksi 22,5%, gentosa 17,5% dan Anastasia 2% (Manuaba, 1997).

1

1.2 Batasan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka penulis membatasi pada lingkup permasalahan asuhan kebidanan pada post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Menerepakan danmengembangkan pola pikir ilmiah dalam memberikan asuhan kebidanan secara nyata agar dapat memecahkan masalah pada ibu post seksio sesaria dengan indikasi Solusio Placenta.

1.3.2 Tujuan Khusus

Penulis mampu:

1.3.2.1  Mengidentifikasi data dan menganalisa masalah pada klien dengan post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.3.2.2  Merumuskan masalah dan diagnosa terhadap klien dengan post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.3.2.3  Menentukan diagnosa potensial dan tindakan segera

1.3.2.4  Menyusun rencana tindakan

1.3.2.5  Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan

1.3.2.6  Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan yang telah dilaksanakan

1.3.2.7  Mendokumentasikan aduhan kebidanan pada ibu nifas post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi Penulis

Dapat menanamkan pengetahuan penulis dalam penanganan pada ibu nifas post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.4.2 Bagi Institusi pendidikan

Sebagai bahan kepustakaan bagi yang membutuhkan acuan perbandingan pada penanganan kasus ibu nifas post seksio sesaria indikasiSolusio Placnta.

1.4.3 Bagi Institusi Lahan Praktek

Untuk menambah acuan bacaandalam bidang ilmu kebidanan khususnya dalam penanganan ibu nifas post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.4.4 Bagi Klien

Agar klien dan keluarga tercipta kemandirian dalam mengatasi permasalahannya.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Dilaksanakan di RS Muhammadiyah pada tanggal 12-21 Juni 2006.

1.6 Metode Penulisan

Penulisan ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan menggunakan studi kasus melalui wawancara, observasi, melakukan asuhan kebidanan pada klien, dan studi pustaka.

1.7 Sistematika Penulisan

Secara garis besar sistematika penulisan adalah sebagai berikut:

Bab 1   Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, lokasi dan waktu penulisan.

Bab 2   Tinjauan pustaka, terdiri dari konsep dasar dan teori masa nifas, fisiologi, masa nifas seksio sesaria dan teori solusio placenta.

Bab 3   Tinjauan kasus, terdiri dari pengkajian, diagnosa atau masalah, diagnosa potensial, tindakan segera, perencanaan tindakan, pelaksanaan atau kegiatan dan monitoring en\valuasi.

Bab 4   Pembahasan, terdiri dari pembahasan dan persamaan antara kasus nyata dengan tinjauan pustaka.

Bab 5   Penutup terdiri dari simpulan dan saran

Daftar pustaka

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batasan

Batasan judul dari karya tulis “Asuhan Kebidanan” Post Seksio Sesaria indikasi Solusio Placenta.

2.1.1        Asuhan kebidanan adalah aktivitas atau interversi yang dilaksanakan oleh bidan kepada klien yang mempunyai kebutuhan atau permasalahan khususnya bidang KIA/KB (Depkes RI, 1995)

2.1.2        Masa nifas adalah masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Seluruh genetalia pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Hanifa, 1999).

2.1.3        Seksio sesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (hanifa, 1999)

2.1.4        Solusio Plasenta adalah pecahnya terlepasnya placenta dari tempat implantasinya pada uterus sebelum janin dilahirkan dan berlangsung pada kehamilan dengan masa gestasi di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram, ( Abdul Bahri s, 2001: 166)

2.2 Konsep Dasar Nifas

2.2.1 Pengertian

Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir setelah kandungan kembali seperti sebelum hamil berlangsung. Kira-kita 6 minggu (Saifuddin, 2001)

2.2.2 Masa Nifas Dibagi Menjadi 3 Periode

2.2.2.1  Peurperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan

2.2.2.2

4

Peurperium intermedial adalah kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu

2.2.2.3  Remote peurperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan (Rustam Mochtar, 1998)

2.2.3 Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Nifas

2.2.3.1  Perubahan Fisik

Perubahan fisik yang terjadi pada masa nifas meliputi:

  1. Suhu tubuh

Beberapa hari setelah melahirkan suhu agak naik antara 370C – 37,50C. Bila suhu melebihi 380C dianggap tidak wajar (Depkes RI, 1997).

  1. Nadi

Nadi berkisar antara 60-80 kali permenit, segera setelah parus terjadi bradikardi (Hanifa, 2000).

  1. Tekanan Darah

Penirinan tekanan segera setelah persalinan sering terjadi akibat kehilangan darah yang berlebihan (Cunningham, 1995). Pada umumnya beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi post partum, tetapi akan menghilang dengansendirinya apabila tidak terdapat penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam ± 2 bulan tanpa pengobatan (Hanifa, 2000).

  1. Pernafasan

Pernafasan berada pada batas normal, teratur, cukup dalam, dengan frekuensi ±18 kali per menit. Apabila pernafasan tidak tertur, dangkal, berbunyi, frekuensi rendah atau tinggi menunjukkan keadaan jantung, paru-paru tidak normal (Christina, 1993)

2.2.3.2  Involusio alat-alat kandungan

Involusio adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan kelahiran setelah bayi dan plasenta dilahirkan hingga mencapai keadaan sperti sebelum hamil. Proses involusi terjadi karena adanya autolysis atau penghancuran jaringan. Otot-otot uterus yang tumbuh karena adanya hiperplasi, dari jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang sepuluh kali dan menjadi lima kali lebih tebal dari waktu hamil, dan akan susut kembali mencapai keadaan semula.

Aktivitas otot-otot yaitu adanya kontraksi dan retraksi dari otot-otot setelah anak lahir, untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk pengeluaran isi uterus yang tidak diperlukan.

Ischemia disebut juga lokal anemia yaitu kekurangan darah pada uterus. Kekurangan darah bukan saja disebabkan adanya kontraksi dan retraksi yang cukup lama tetapi juga disebabkan oleh pengurangan aliran darah yang ke uterus dalam masa hamil. Karena uterus membesar menyesuaikan dengan pertumbuhan janin. Untukmemenuhi kebutuhannya darah banyak dialirkan ke uterus, agar uterus dapat mengadakan hypertrophy dan hyperplasi.

Ketiga faktor tersebutsaling mempengarhi dengan yang lainnya dalam proses imvolusi uterus (Christina S. Ibrahim, 1996)

  1. Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

Table 1. Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi

Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba di atas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
  1. Bekas implatasi Uri

Placenta bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter  7, 5 cm. sesudah 2 minngu menjadi 3,5, pada minngu ke enam 2,4 cm dan akhirnya pulih.

  1. Rasa sakit atau after pains

Mules-mules yang disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan

  1. Lochia yaitu cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
    1. Locia rubra (cruenta) berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan nekoneum. Selama 2 hari persalinan (Rustam Moctar, 1998 ).
    2. Lochia sanguinolenta

Berwarna kuning berisi darah dan lendir hari ke 3 -7 pasca persalinan

  1. Lochia serosa

Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lahi pada hari ke 7 – 14 pasca persalinan.

  1. Lochia alba

Cairan putih setelah 2 minngu

  1. Lochia purulenta

Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah, berbau busuk.

  1. Lochia stasis

Lochia tidak lancer keluarnya.

  1. Serviks

Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti cokong berwarna merah kehitaman. Konsistensi lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.

  1. Ligamen-ligamen

Ligamen, fasia, dan diafgragma pelvis yang meregang pada pada waktu persalinan, setel;ah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus  jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamentum rotundum menjadi kendor.

  1. Perubahan dinding peryt dan peritoneum

Setelah persalinan dinding perut longgar karena begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam waktu enam minggu, kadang-kadang pada wanita yang astheisis terjadi diathesis terjadi diathenis dari otot rektus abdominis sehingga sebagian dari dinding perut (Rustam Moctar, 1998)

2.2.3.3 Laktasi

Laktasi yaitu pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Air susu ibu merupakan makanan pokok bagi bayio dan makanan yang terbaik yang bersifat alamiah (Hanifa, 1999)

Untuk menghadapi masa laktasi, sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mammae yaitu :

  1. Proliferasi jaringan pada kelenjar- kelenjar alveoli dan jaringan lemak bertambah.
  2. Keluaran cairan susu jolong dan duktus laktiferus disebut colostrums, berwarna kuning putih susu.
  3. Hipervaskulaisasi pada permukaan dan bagian dalam, diman vena-vena  berdilatasi sehingga tampak jelas.
  4. Setelah persalianan, pengaruh pengaruh hormone laktogenetik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Di samping itu pengaruh oksitosin menyebabkan mioepitel kelenjar susu berkontraksi  sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan (Rustam Moctar, 1998)

2.2.3.4  Perubahan Psikologi

  1. Bonding Attachment (Ikatan Kasih Sayang)

Terjadi pada kala IV, dimana diadakan dontak antara ibu, ayah, anak tetap dlam ikatan kasih. Karena perlu partisipasi suami dlam proses persalinan yang merupakan salah satu upaya dalam proses ikatan kasih tersebut. Menurut Neelson (1986) bonding attachment adalah dimulainyainteraksi emosi sensorik, fisik antara orang lain dan bayi segera setelah lahir dan terjadiikatan efektif yang terjalin diantara individu, meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab.

  1. Fase Honeymoon

Fase dimana anak lahir terjadi intimidasi dan kontak antara ibu – ayah, anak. Hal ini dapt dikatakan sebagai psikis honeymoon yang tidak memerlukan hal-hal yang romantika, masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru.

  1. Fase Taking In

Perhatian ibu terhadap kebutuhan dirinya mungkin pasif dan tergantung, berlangsung 1-2 hari. Ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya tetapi bukan berarti tidak memperhatikan. Dalam fase ini informasi yang dibutuhkan ibu adalah keadaan bayi, bukan cara merawat bayi. Ibu mengenang saat atau pengalaman melahirkan yang baru dialami, untuk memulihkan perlu tidur dan makanan yang adekuat.

  1. Fase Taking Hold

Ibu berusaha mandiri dan berinisiatif, mulai perhatian terhadap kelancaran fungsi tubuhnya, misalnya defekasi, miksi, aktifitas dan sebagainya. Ibu ingin belajar tentang perawatan diri dan bayinya. Pada saat ini kepercayaan ibu terhadap dirinya berkurang, hal ini tercetus dari perkataan ibu “saya tidak mampu………..”

2.2.4 Kebutuhan Dasar Masa Nifas

Kebutuhan dasar masa nifas meliputi:

2.2.4.1  Aktifitas/ Ambulasi Dini

Sebaiknya ibu-ibu post partum dapat melakukan ambulasi dini setelah kondisi fisiknya mulai membaik. Ambulasi dilakukan secara bertahap yaitu:

  1. Miring kanan/ miring kiri setelah 2 jam post partum
  2. Duduk sendiri setelah 6-8 jam post partum
  3. berjalan setelah 12 jaqm post partum

Mobilisasi di atas mempunyai variasi tergantung pada komplikasi persalinan nifas dan sembuhnya luka (Mochtar Rustam, 1998)

2.2.4.2  Istirahat

Istirahat disini bukan berarti istirahat fisiknya saja, melainkan jugamental. Maka ibu harus terhindar dari masalah-masalah yang menyebabkan tidak tenang. Kebutuhan istirahat/ tidur pada masa nifas antara 8 -10 jam sehari.

2.2.4.3  Nutrisi dan cairan

Makanan dan minuman merupakan faktor penting dalam pemulihan kondisi tubuh serta pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Maka diperlukan nutrisi tambahan dan tidak ada pembatasan cairan yang masuk. Ibu yang menyusui seharusnya:

  1. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
  2. Makan dengan diet berimbsng untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup.
  3. Minum sedikitnya 3 liter setiap hari.
  4. Minum pil zat besi untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin (Saifudin, 2001)

2.2.4.4  Perawatan Payudara (buah dada)

Perawatan buah dada dilakukan sejak klien hamil dengan tujuan agar laktasi dapat berjalan lancer. Puting susu perlu mendapat latihan pada fissura. Karena yang kering kemungkinan bertumpuk dan mengiritasi puting susu  (Cunningham, 1995).

2.2.4.5  Perawatan Vulva

Perawatan vulva dilakukan agar terhindar dari infeksi dan mempercepat penyembuhan luka episiotomi serta menjaga kebersihan (Christina I, 1996)

2.2.4.6  Latihan

Dengan  dilakukan latihan dapat mengembalikan otot-otot perut dan panggul. Latihan yang dilakukan beberapa menit setiap hari akan dapat bermanfaat (Saifudin, 2000)

2.2.4.7  Eliminasi Uri

  1. Eliminasi uri hendaknya dapat dilakukan sendiri setelah 6 jam pasca persalinan. Jika ibu belum dapat kencing spontan, dilakukan rangsang kencing dengan menyiram vulva dengan air hangat (Persis M.H., 1995)
  2. Eliminasi Alvi

Buang air besar harus dilakukan selambat-lambatnya 3-4 hari pasca persalinan. Bila sulit buang air besar dan terjadi obstipasi dapat diberikan obat laksans per oral atau per rectal (Persis M.H., 1995)

2.2.4.8  Keluarga berencana

Idealnya pasangan suami istri harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun untuk hamil kembali. Masa post partum merupakan saat yang paling baik untuk pemasangan alat kontrasepsi (Sastrawan, 1996)

2.2.4.9  Hubungan suami istri

Secara fisik aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri begitu darah merah berhenti. Tetapi budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri masa waktu tertentu 40 hari atau 6 minggu setelah melahirkan (Saefuddin, 2001)

2.2.5 Perawatan Masa Nifas

2.2.5.1  Tujuan Perawatan Nifas, yaitu:

  1. Mencegah infeksi, meningkatkan penyembuhan jaringan, involusi uterus dan meningkatkan kenyamanan.
  2. Meningkatkan istirahat, aktivitas dan keamanan, serta mencegah komplikasi dan inmobilisasi.
  3. Meningkatkan asupan makanan dan cairan yang adekuat
  4. Meningkatkan pembentukan laktasi san supresinya
  5. Memenuhi kebutuhan belajar ibu, kebersihan diri, perawatan parineal, perawatan payudara, latihan peregangan otot, hubungan seksual dan kontrasepsi.
  6. Meningkatkan rasa percaya diri serta penurunan stress.
  7. Mendorong untuk mempertahankan kesehatan melalui penggunaan sumber-sumber kesehatan yang ada di masyarakat (Persis M.H., 1995)

Hal yang perlu diperhatikan:

  1. Keadaan umum ibu: suhu, nadi, tensi
  2. Albumin dan oedema
  3. Involusi uterus
  4. Lochea
  5. Perawatan luka perineum
  6. Perawatan payudara
  7. Penyuluhan gizi ibu nifas, imunisasi, senam nifas, dan kebersihan diri

(Depkes RI, 1994)

2.2.5.2  Asuhan Nifas 6-8 jam post partum

  1. Mencegah perdarahan karena atonia uteri
  2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan berlanjut.
  3. Memberi konseling pada ibu atau satu keluarga bagaimana mencegah perdarahan nifas karena atonia uteri.
  4. Pemberian ASI awal
  5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
  6. Menjaga bayi tetap sehat dengan mencegah hypertermi (Saifuddin, 2001)

2.3 Seksio Sesaria

2.3.1 Pengertian

2.3.1.1  Seksio sesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Hanifa, 1999)

2.3.1.2  Seksio sesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh (Saifuddin, 2001)

2.3.2 Jenis Seksio Sesaria

2.3.2.1  Seksio Sesaria Efektif (Primer)

Dari semula sudah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio sesaria tidak diharapkan lahir biasa.

2.3.2.2  Seksio Sesaria sekunder

Dalam hal ini kita bersikap mencoba dalam menunggu kelahiran biasa (partus percobaan) baru bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, dilakukan seksio sesaria.

2.3.2.3  Seksio Sesaria Ulang (Repeat Caesarean Section)

Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami seksio sesaria

2.3.2.4  Seksio Sesaria Histerektomi (Repeat Caesarean Section Hysterectomy)

Adalah suatu operasi dimana setelah bayi dilahirkan dengan seksio sesaria, dikerjakan langsung histerektomi oleh karena suatu indikasi.

2.3.2.5  Operasi Porro (Porro Operation)

Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin sudah mati), maka langsung dilakukan histerektomi (Rustam mochtar, 1998).

2.3.3 Indikasi seksio Sesaria

2.3.3.1 Indikasi Dari Ibu

  1. Primigravida dengan kelainan letak
  2. Primigravida tua disertai: PRM, ERM, kelainan letak, disporporsi sevalo pelvic
  3. Sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk
  4. Terdapat kesempitan pinggul
  5. Plasenta privea terutama pada premi gravida, solusio plasenta, tingkat I-II
  6. Komplikasi kehamilan yaitu: pre eklamsia berat/ eklampsia
  7. Setelah operasi plastic vaginal, bekas luka/ sikatrik yang luas, vistula visiko vaginal, rekto vaginal.
  8. Gangguan perjalanan persalinan karena kista ovarium, mioma uteri, karsinoma serviks, kekakuan serviks

2.3.3.2 Indikasi dari janin

  1. Foetal distress/ gawat janin
  2. Mal presentasi dan malposisi kedudukan janin
  3. Prolapsus tali pusat dengan pemasukan kecil
  4. Kegagalan persalinan vacuum atau forcep ekstraksi

2.3.4 Bentuk Operasi Seksio Sesaria

2.3.4.1  Sectio caesaria klasik menurut Sanger

2.3.4.2  Sectio caesaria transperitoneal profunda menurut Kehrer

2.3.4.3  Sectio Caesaria histerektomi menurut porro

2.3.4.4  Sectio caesaria ekstrakperitoneal

(Manuaba, 1999)

2.3.5 Komplikasi Seksio Sesaria

2.3.5.1 Infeksi Puerperal (Nifas)

  1. Ringan dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
  2. Sedang dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit gembung
  3. Berat dengan peritonitis, septis, dan ileus paralitik. Hal ini sering dijumpai pada partus kasep, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intra partal karena ketubanyang telah terlalu lama.

2.3.5.2 Perdarahan, disebabkan karena:

  1. Banyak pembuluh darah terputus dan terbuka
  2. Atonia uteri
  3. Perdarahan pada plasenta bed

2.3.5.3 Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih

Seperti tonialisasi terlalu tinggi.

2.3.5.4 Kemungkinan rupture Spontan

Pada kehamilan mendatang.

2.3.5.5 Komplikasi luka insisi

  1. Sebagian atau seluruh luka tertutup baik, sebagian dengan eksudat dalam jumlah sedang atau banyak dan keluar melalui lubang-lubang (vistel) dan terinfeksi.
  2. Luka terbuka sebagian bernanahdan terinfeksi.
  3. Luka terbuka seluruhnya dan usus kelihatan/ keluar
  4. Luka tersebut memerlukan perawatan khusus sampai memerlukan reinsisi untuk membuat luka baru dan menutupnya kembali. Ini sering dujumpai pada kasus kebidanan dengan diabetes mellitus, obesitas.

2.3.6 Prognosis Seksia Sesaria

Angka kematian pada rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan tenaga yang terampil 2 : 1000. Nasib janin yang ditolong tergantung keadaan pre operasi. Dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal sekitar 4-7% (Rustam Mochtar, 1998). Untuk persalinan berikutnya tergantung indikasi seksio sesaria dan keadaan kehamilan berikutnya.

2.5 Konsep Asuhan Kebidanan pada Nifas Post Seksio Sesaria Indikasi solusio placenta

2.5.1 Pengertian

Asuhan kebidanan adalah aktivitas atau interversi yang dilaksanakan oleh bidan kepada klien yang mempunyai kebutuhan atau permasalahan khususnya dalam bidang KIA/KB (Noegroho Imam S., 1995)

2.5.1.1 langkah-langkah kebidanan pada ibu nifas post secsio sesaria indikasi solusio plasenta

2.5.1.1.1 Data Subyektif dan Data Obyektif

  1. 1. Data Subyektif

1) Biodata Ibu dan Suami

  1. Nama : yang jelas dan lengkap, digunakan untuk membedakan dengan pasien lain.
  2. b. Umur : dalam tahun, unutk mengetahui usia dan untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan.
  3. c. Agama: untuk menudahkan bidan dalam melakukan pendekatan dalam asuhan kebidanan.
  4. d. Suku/ bangsa : untuk menentukan prognosa persalinan dengan melihat keadaan pangggul.
  5. e. Pendidikan: untuk mengetahui tingkat pendidikan pasien serta mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.
  6. f. Pekerjaan : untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonomi pasien dan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pekerjaan dengan permasalahan kesehatan dan pembiayaan.
  7. g. Penghasilan : unutk mengetahui tingkat sosial ekonomi yang berhubungan dengan biaya
  8. h. Alamat : untuk mengetahui pasien tinggal dimana, agar mempermudah menghubungi bila dalam keadaan mendesak dan memberi petunjuk tentang keadaan lingkungan pasien
  9. i. Perkawinan : untuk membantu menentukan bahgaimana keadaan alat reproduksi pasien, misalnya pada ibu yang telah lama kawin dan baru mempunyai anak, kemungkinan ada kelainan pada alat reproduksinya.

2) Anamnesa

  1. a. Alasan Masuk Rumah Sakit (MRS)

Yang dikaji hari, tanggal, jam masuk Rumah Sakit, mengapa klien datang/ masuk ke rumah Sakit.

  1. b. Keluhan utama

Adakah keluhan yang dirasakan oleh klien pada saan pengkajian baik fisik maupun psikis, apakah merasakan nyeri pada luka operasi, apakah perutnya kembung.

  1. c. Riwayat menstrusai

Menarche umur berapa, siklus dan lamanya teratur/ tidak, banyaknya darah yang keluar, dysmenorhoe, fluor albus, kapan menstruasi yang terakhir, untuk mengatahui usia kehamilan, dan penafsiran persalinan.

  1. d. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu

Yang dikaji perkawinan yang ke berapa, usia kehamilan yang cukup bulan atau kurang, pernah keguguran atau tidak, jenis atau cara persalinan, normal (spontan) atau dengan tindakan, ditoling siapa, tempat melahirkan dimana, ada penyulitnya atau tidak, jenis bayi, berat badan dan panjang badan waktu lahir, umur,hidup atau mati, menetek atau tidak, lamanya, keluarga berencana yang pernah diikuti.

  1. e. Riwayat kehamilan sekarang

Data yang dikaji, hamil anak yang ke berapa, usia kehamilan, pergerakan anak yang pertama kali kapan dirasakan, dimana memeriksakan kehamilannya, berapa kali sudah mendapat suntik imunisasi TT atau belum, berapa kali, obat-obatan apa yang di dapat, keluhan apa yang dirasakan, sudah mendapat penyuluhan mengenai apa saja dari petugas kesehatan atau bidan.

  1. f. Riwayat persalinan sekarang

Yang dikaji, hari tanggal dan jam berapa melahirkan, jinis bayi, keadaan waktu lahir, berat dan panjang bdan bayi, bagaimana proses persalinannya, berapa lama, bila dengan tindakan atas indiksi apa.

  1. g. Riwayat Keluarga Berencana (KB)

Pernahkah mengikuti KB sebelumnya, jenis kontrasepsi yang digunakan, kalau pernah ikut berapa lama, efek samping yang dirasakan, alasan pemberian, bila klien berhenti, rencana menggunakan kontrasepsi lagi, apakah ada ikut KB lagi setelah melahirkan

  1. h. Riwayat kesehatan

a) Riwayat kesehatan yang pernah atau sedang diderita

Apakah klien pernah atau sedang menderita penyakit, menahun, menular, dan apakah klien pernah di operasi, alasan di operasi, kapan dan di mana.

b) Riwayat Penyakit Keluarga

Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang menahun dan menular. Apakah ada keluarga yang melahirkan kembar, baik dari pihak istri maupun suami. Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan ibu maupun bayinya.

c) Perilaku Sehat

Yang dikaji kalau sakit diperiksakan kemana.

  1. i. Riwayat Psikososial

Apakah kelahiran bayinya ini diharapkan oleh klien, suami atau keluarganya. Bagaimana perasaan ibu atau suami dan keluarga dengan jenis kelamin anaknya, baagimana dukungan suami dan keluarga terhadap kelahiran bayinya. Bagaimana hubungan klien dengan suami, keluarga, dan tetangga.

  1. j. Riwayat sosial Budaya

Apakah ada adapt istiadat yang dianut atau diyakini selama masa nifas.

  1. k. Pola Kehidupan Sehari-hari

Untuk mengetahui sberapa klien dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan masalah-masalah yang timbul sebelum dan setelah melahirkan.

a) Pola Nutrisi

Bagaimana kebiasaan dalam pemenuhan nutrisi sebelun atau sesudah melalui rasa sakit. Apakah klien menghabiskan porsi nutrisi yangdusediakan di Rumah sakit. Bagaimana pola minumnya, makan dan jumlahnya dalam sehari.

b) Pola eliminasi

Sebelum MRS:

Bagaimana pola defekasi dan miksinya, berapa kali dalam 1 hari, apakah ada keluhan, konsistensinya

Waktu MRS:

Defekasi: apakah klien sudah defekasi, kapan, berapa kali, adakah keluhan. Miksi : berapa kali, apakah klien masih dipasang dower kateter, berapa jumlah urinenya, warnanya.

c) Pola aktivitas

Pada klien dengan post seksio sesaria yang perlu dikaji, bagaimana kemampuan klien dalam melaksanakan mobilisasi.

d) Pola istirahat/ tidur

Bagaimana pemenuhan terhadap istirahatnya sebelum dan setelah melakukan. Apakah klien mengalami gangguan atau kesulitan dalam istirahat.

e) Pola personal hygiene

Personal hygiene sebelum masuk rumah sakit dan selama di Rumah Sakit. Berapa kalai sehari, mandi, gosok gigi, cuci rambut (keramas), ganti pakaian, celana, BH.

f) Pola seksual

Bagaimana pola seksualitas yang dilakukan sebelum klien masuk Rumah Sakit. Pola seksualitas dapat dilakukan 40 hari atau 6 minggu setelah melahirkan atau setelah masa nifas selesai. Namun dianjurkan untuk KB lebih dahulu. Data yang dikaji frekuensi seksual dan apakah ada keluhan atau tidak sewaktu malakukan hubunganseksual.

2.5.1.1.2  Data Obyektif

1) Pemeriksaan umum: keadaan umum, kesadaran, berat badan, tinggi badan, tanda-tanda vital.

2) Pemeriksaan Fisik:

  1. a. Inspeksi

a)      Keadaan umum           : baik/tidak

b)      Postur tubuh                : nomal/tidak

c)      Ekspresi wajah            : sedih/senang

d)     Kepala                         : ada benjolan/ luka/ tidak

e)      Rambut                       : warna dan kebersihanya

f)       Muka                     : pucat atau tidak, ada chloasma gravidarum atau tidak

g)      Mata                            : conjunctiva pucat/anemis, sclera ikterus

atau tidak

h)      Hidung                        : normal atau ada polip

i)        Telinga                        : bagaimana pendengarannya

j)        Mulut                            :Bibir merah/ pucat/ kering, gigi ada karies atau tidak

k)      Leher                             : adakah pembesaran kelenjar thyroid, pembesaran vena jugularis, pembesaran kelanjar getah bening.

l)        Dada                             : simetris atau tidak.

m)    Payudara                       : membesar atau tidak, areola mammae tampak hyperpigmentasi atau tidak, puting susu menonjol atau tidak, kebersihannya.

n)      Abdomen                      : membesar atau tidak, striae ada atau tidak, linea tampak atau tidak, keadaan luka operasi basah/ kering/ ada perdarahan/tidak

  • o)      Vulva                            : oedema/tidak, ada varises atau tidak, pengeluaran pervagina, lochea: waranya, bau atau tidak, apakah terpasang dower kateter, produksi urine: jumlah dan warnanya

p)      Anus                              : ada varies atau tidak, ada hemoroid atau tidak

q)      Ekstermitas atas dan bawah: akral hangat/ dingin, adakan oedema pada jari-jari, adakah oedema pada kaki, adakah varises, reflek.

  1. b. Palpasi

Abdomen untuk mengetahui tinggi fundus uteri, kontraksi uterus keras atau lemah

  1. c. Auskultasi

Untuk mengetahui bunyi bising usus sudah ada atau belum

3) Pemeriksaan penunjang

  1. a. Laboratorium

Darah: Hb normal >11 gram%

Urine: albumin positif/ negative, reduksi positif/ tidak

  1. USG: dilakukan atau tidak

4) Terapi yang diberikan

Antibiotika dan analgesik

2.5.1.1.3 Asesment

Diagnosa adalah post partum dengan SC hari ke-2 indikasi Solusio Placenta.

2.5.1.1.4  Planning

Melakukan sesuai apa yang telah ada dalam rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, pelaksanaan tindakan perlu dilaporkan secara tertulis guna kesinambungan suatu tindakan (Syahlan, 1993 : 131)

BAB 4

PEMBAHASAN

Di dalam karya tulis ini, penulis akan membahas tentang kendala atau hambatan melaksanakan asuhan kebidanan pada klien dengan post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta hambatan tersebut menyangkut kesenjangan antara latar belakang dengan kasus, dan antara teori yang didapat selama kuliah dengan praktek langsung di lapangan, berikut pemecahan masalah yang penulis lakukan, sehingga asuhan kebidanan yang diharapka dapat terselesaikan.

Untuk mempermudah penyusunan pembahasan ini penulis akan mulai membahasnya dari latar belakang pendahuluan, kemudian mengelompokkan permasalahannya sesuai tahap-tahap proses asuhan kebidanan, yaitu tahap pengkajian, analisa diagnosa/masalah, diagnosa potensial, tindakan segera, perencanaan dan tindakan/ serta tahap penialaian atau evaluasi

1.1 Tahap Pengkajian

Pada tahap pengkajian, data subyektif dan data obyektif, penulis tidak menemukan kesulitan baik melalui wawancara langsung maupun melalui pengamatan terhadap klien dan keluarganya. Hal ini dikarenakan klien mudah diajak berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik.

1.2 Analisa Diagnosa/Masalah

Setelah dianalisa ternyata didapatkan satu diagnosa dan dua masalah kebidanan yaitu diagnosa P10001 post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta, masalah nyeri luka operasid dan keterbatasan aktivitas. Hal ini berbeda dengan masalah yang ada pada tinjauan pustaka. Pada tinjauan pustaka terdapat 3 permasalahan. Dua diantaranya ditemukan saat penulis melaksanakan asuhan kebidanan sedang masalah yang tidak ditemukan pada kasus ini adalah potensial terjadi perdarahan dan infeksi. Hal ini dikarenakan petugas dalam melakukan perawatan cukup memenuhi standar atau protap yang ada di ruangan.

1.3 Diagnosa Potensial

Diagnosa potensial terjadi perdarahan dan infeksi tidak ditemukan, hal ini karena perawatan yang berkesinambungan dan tindakan yang dilakukan sesuai dengan standar protap yang ada. Tidak terjadi perdarahan karena plasenta lahir lengkap dan terapi yang adekuat. Dan tidak terjadi infeksi karena sarana dan prasana yang cukup memenuhi standar pelayanan kebidanan. Dimana kesterilan alat-alat untuk operasi dan perawatan luka cukup terjaga. Yaitu melalui proses dekontaminasi dengan larutan khlorin 0,5%, pencucian dengan sabun dan dibilas dengan air mengalir, kemudian diproses secara desifeksi tingkat tinggi dan sterilisasi

1.4 Tindakan Segera

Pada kasus ini tidak dilakukan tindakan segera karena tidak terjadi perdarahan post seksio sesaria dan tidak terjadi infeksi. Hal ini dikarenakan tindakan yang tepat dari perawatan yang sesuai dengan protap/standar.

1.5 Tahap perencanaan (Planning)

Sesuai dengan diagnosa atau masalah yang muncul saat penulis melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan post seksio sesaria indikasi letak sungsang dimana diagnosa pertama adalah P10001 post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta rencana tindakan sesuai dengan tercantum dalam tinjauan teori.

Begitu juga pada diagnosa masalah pertama, kedua dan ketiga, semua rencana tindakan sesuai dengan yang tercantum dalam tinjauan tteori. Jadi dalam tahap perencanaan ini tidak ada hambatan yang penulis jumpai karena sarana, prasarana dan sumber daya dari klien, keluarga dan ruang bersalin tempat melaksanakan asuhan kebidanan memungkinkan untuk membuat rencana tindakan sesuai prinsip-prinsip ilmu kebidanan dan protap yang ada.

1.6 Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan ini penulis melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah dibuat atau ditetapkan yaitu pada diagnosa P10001 post seksio sesaria indikasi letak sungsang dalam pelaksanaanya penulis tidak ada hambatan. Hal ini dikarenakan adanya kerja sama yang baik, antara petugas, klien, keluarga, sehingga dapat melaksanakana asuhan kebidanan sampai kondisi klien stabil dan masalah teratasi

1.7 Evaluasi

Pada tahap evaluasi tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus. Pada tahap ini setelah melakukan penilaian dari asuhan kebidanan  yang telah diberikan pada klien. Penulis mencatat perkembangan hasil akhir yang diperoleh sesuai dengan tujuan kriteria evaluasi yang terdapat pada tinjauan pustaka. Konsep dasar asuhan kebidanan yaitu tidak terjadi komplikasi pada klien dengan post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

1.1 Simpulan

Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan post seksio sesasri indikasi letak sungsang dan menulis tinjauan pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa ibu hamil dengan Solusio Placenta segera dirujuk dan dilakukan tindakan, jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan kematian bayi yang dikandungnya.

Asuhan kebidanan pada post seksio sesaria meliputi:

1.1.1        Tahap pengkajian merupakan tahap yang paling penting dan mendasari asuhan kebidanan pada klien dengan post seksio sesaria, sehingga untuk menggali dan mengumpulkan data yang lengkap diperlukan kemampuan komunikasi yang efektif, selain itu faktor sikap, tingkah laku, ketrampilan, dan penguasaan ilmu secara teoritis dapat membantu terlaksananya asuhan kebidanan dengan baik. Data tersebut sebagai dasar dalam menganalisa diagnosa/ masalah, diagnosa potensial dan tindakan segera

1.1.2        Analisa data dan diagnosa/ masalah

Dalam asuhan kebidanan pada klien post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta penulis menemumkan 3 masalah : P10001 post seksio sesaria, nyri luka operasi, dan keterbatasan aktivitas, dari semua masalah tersebut dapat teratasi, karena klien dapat diajak kerjasama dan kooperatif, sehingga perawatan yang berkesinambungan dapat berhasil.

1.1.3        Menyusun rencana tindakan kebidanan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan klien

1.1.4        Melaksanakan tindakan kebidanan meliputi pendidikan kesehatan, bersama-sama dengan klien. Keluarga melakukan mobilisasi dini secara bertahap, perawatan buah dada, observasi tanda-tanda vital, involusi uteri serta kolaborasi dengan tim medik untk menetapkan terapi.

1.1.5        Hasil evaluasi dari kegiatan yang sudah dilaksanakan merupakan penilaian tentang keberhasilan asuhan kebidanan dari pelaksanaan diagnosa dan masalah.

1.2 Saran

1.2.1 Untuk Klien dan keluarga

1.2.1.1  Agar klien memeriksakan diri serta bayinya secara teratur sesuai jadwal yang ditentukan

1.2.1.2  Diharapkan klien menyusui bayinya sesuai dengan kebutuhan

1.2.1.3  Diharapkan klien makan makanan sesuai kebutuhan

1.2.2 Untuk penulis yang akan datang

1.2.2.1  Untuk keberhasilan dalam asuhan kebidanan diperlukan kerjasama antara klien, keluarga dan petugas kesehatan dalam melakukan tindakan.

1.2.2.2  Hendaknya dalam melaksanakan asuhan kebidanan dilakukan pendekatan secara terapeutik.

1.2.2.3  Dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien hendaknya diberikan secara utuh meliputi Bio-Psiko-Sosial dalam konteks keluarga.

About these ads

Tentang ifafan

cinta damai....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s