SEMANGAT MERAH PUTIHKU

INDONESIA

INDONESIA

jangan biarkan kekalahan Timnas 3-0 atas malasya bikin rasa Nasionalisme kita hilang
SEMANGAT INDONESIA
SEMANGAT MERAH PUTIH
SEMANGAT TIMNASKU..

lomba 17 Agustus 2010

AKU ADALAH AKU

banyak orang yang pengen terlihat jadi yang terbaik dimata orang lain sehimgga dia tidak  menjadi dirinya sendiri melainkan jadi orang lain….

buat aku.. tu kayak hidup di kebohongan…. buat aku AKU ADALAH AKU, ngak peduli kita kekurangan, kita kurang pandai, kita miskin, yang penting kita punya jati diri…………

berbanggalah jadi dirimu sendiri karena sekurang-kurangnya dirimu adalah sebaik-baiknya dirimu

LAPARATOMI

LAPARATOMI

Pengertian

Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.

Ada 4 cara, yaitu;

1. Midline incision

2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm).

3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.

4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.

Indikasi

1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)

2. Peritonitis

3. Perdarahan saluran pencernaan.

4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.

5. Masa pada abdomen

Komplikasi

1. Ventilasi paru tidak adekuat

2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.

3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan

Latihan-latihan fisik

Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi.

POST LAPARATOMI

Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.

Tujuan perawatan post laparatomi;

1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.

2. Mempercepat penyembuhan.

3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.

4. Mempertahankan konsep diri pasien.

5. Mempersiapkan pasien pulang.

Komplikasi post laparatomi;

1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.

Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.

Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.

2. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.

Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.

Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.

3. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.

Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.

Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.

Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.

Proses penyembuhan luka

· Fase pertama

Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.

· Fase kedua

Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.

· Fase ketiga

Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.

· Fase keempat

Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.

Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan

1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.

2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.

3. Pencegahan infeksi.

Pengembalian Fungsi fisik.

Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.

Mempertahankan konsep diri.

Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.

Pengkajian

Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy, adalah;

1. Respiratory

· Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.

2. Sirkulasi

· Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.

3. Persarafan : Tingkat kesadaran.

4. Balutan

· Apakah ada tube, drainage ?

· Apakah ada tanda-tanda infeksi?

· Bagaimana penyembuhan luka ?

5. Peralatan

· Monitor yang terpasang.

· Cairan infus atau transfusi.

6. Rasa nyaman

· Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi.

7. Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.

Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.

2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.

3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.

Kriteria Evaluasi

Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;

1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.

2. Luka insisi normal tanpa infeksi.

3. Tidak timbul komplikasi.

4. Pola eliminasi lancar.

5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.

6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.

7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :

· Pengobatan lanjutan.

· Jenis obat yang diberikan.

· Diet.

· Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.


PENATALAKSANAAN PERAWATAN

Assesment

Pengkajian ini meliputi obyektif dan subyektif.

1. Data subyektif meliputi;

· Nyeri yang sangat pada daerah perut.

2. Data obyektif meliputi :

· Napas dangkal

· Tensi turun

· Nadi lebih cepat

· Abdomen tegang

· Defense muskuler positif

· Berkeringat

· Bunyi usus hilang

· Pekak hati hilang

Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.

2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.

3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.

Hasil yang diharapkan

1. Pasien akan tetap merasa nyaman.

2. Pasien akan tetap mempertahankan kesterilan luka operasinya.

3. Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Tindakan keperawatan (intevensi keperawatan) pre operatif :

1. Pertahankan pasien untuk bedrest sampai diagnosa benar-benar sudah ditegakkan.

2. Tidak memberikan apapun melaui mulut dan beritahukan pasien untuk tidak makan dan minum.

3. Monitoring cairan intra vena bila diberikan.

4. Mencatat intake dan output.

5. Posisi pasien seenak mungkin.

6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan.

7. Ajarkan pasien hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi selesai.

8. Monitoring tanda-tanda vital.

Tindakan keperawatan post operasi:

1. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output

2. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.

3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut.

4. Perawatan luka operasi secara steril.

Evaluasi

1. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :

· Suhu tubuh normal

· Nada normal

· Perut tidak kembung

· Peristaltik usus normal

· Flatus positif

· Bowel movement positif

2. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas.

3. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi.

4. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa.

5. Luka operasi baik.

NIFAS

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah msalah besar di Negara berkembang. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita pada puncak produktivitasnya (Sarwono Prawirohardjo, 2000). Angka kematian ibu maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi kesehatan ibu dan anak, kondisi kesehatan lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan lingkungan. Tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, inu waktu melahirkan dan masa nifas.

Dalam hal ini bidan merupakan ujung tombak pemberi pelayanan kesehatan khususnya kepada masyarakat senantiasa berupaya meningkatkan mutu pelayanan sesuai standar professional. Untuk dapat memberikan asuhan kebidanan yang baik dituntut adanya tenaga bidan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan, ketramppilan, pelayanan serta professional sehingga didapatkan pelayanan kebidanan yang bermutu, ilmiah dan bertanggung jawab.

Pada hasil SKRT 1995 angka kematian ibu maternal sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2000 diupayakan penurunan angka kematian ibu menjadi 225 per 100.000 kelahran hidup (Profil Kesehatan Indonesia, 1997). Tingginya angka kematian di Indonesia disebabkan oleh persalinan resiko tinggi yang terdiri dari akibat perdarahan 30,5%, infeksi 22,5%, gentosa 17,5% dan Anastasia 2% (Manuaba, 1997).

1

1.2 Batasan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka penulis membatasi pada lingkup permasalahan asuhan kebidanan pada post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Menerepakan danmengembangkan pola pikir ilmiah dalam memberikan asuhan kebidanan secara nyata agar dapat memecahkan masalah pada ibu post seksio sesaria dengan indikasi Solusio Placenta.

1.3.2 Tujuan Khusus

Penulis mampu:

1.3.2.1  Mengidentifikasi data dan menganalisa masalah pada klien dengan post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.3.2.2  Merumuskan masalah dan diagnosa terhadap klien dengan post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.3.2.3  Menentukan diagnosa potensial dan tindakan segera

1.3.2.4  Menyusun rencana tindakan

1.3.2.5  Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan

1.3.2.6  Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan yang telah dilaksanakan

1.3.2.7  Mendokumentasikan aduhan kebidanan pada ibu nifas post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi Penulis

Dapat menanamkan pengetahuan penulis dalam penanganan pada ibu nifas post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.4.2 Bagi Institusi pendidikan

Sebagai bahan kepustakaan bagi yang membutuhkan acuan perbandingan pada penanganan kasus ibu nifas post seksio sesaria indikasiSolusio Placnta.

1.4.3 Bagi Institusi Lahan Praktek

Untuk menambah acuan bacaandalam bidang ilmu kebidanan khususnya dalam penanganan ibu nifas post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

1.4.4 Bagi Klien

Agar klien dan keluarga tercipta kemandirian dalam mengatasi permasalahannya.

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Dilaksanakan di RS Muhammadiyah pada tanggal 12-21 Juni 2006.

1.6 Metode Penulisan

Penulisan ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan menggunakan studi kasus melalui wawancara, observasi, melakukan asuhan kebidanan pada klien, dan studi pustaka.

1.7 Sistematika Penulisan

Secara garis besar sistematika penulisan adalah sebagai berikut:

Bab 1   Pendahuluan, terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, lokasi dan waktu penulisan.

Bab 2   Tinjauan pustaka, terdiri dari konsep dasar dan teori masa nifas, fisiologi, masa nifas seksio sesaria dan teori solusio placenta.

Bab 3   Tinjauan kasus, terdiri dari pengkajian, diagnosa atau masalah, diagnosa potensial, tindakan segera, perencanaan tindakan, pelaksanaan atau kegiatan dan monitoring en\valuasi.

Bab 4   Pembahasan, terdiri dari pembahasan dan persamaan antara kasus nyata dengan tinjauan pustaka.

Bab 5   Penutup terdiri dari simpulan dan saran

Daftar pustaka

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batasan

Batasan judul dari karya tulis “Asuhan Kebidanan” Post Seksio Sesaria indikasi Solusio Placenta.

2.1.1        Asuhan kebidanan adalah aktivitas atau interversi yang dilaksanakan oleh bidan kepada klien yang mempunyai kebutuhan atau permasalahan khususnya bidang KIA/KB (Depkes RI, 1995)

2.1.2        Masa nifas adalah masa puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Seluruh genetalia pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Hanifa, 1999).

2.1.3        Seksio sesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (hanifa, 1999)

2.1.4        Solusio Plasenta adalah pecahnya terlepasnya placenta dari tempat implantasinya pada uterus sebelum janin dilahirkan dan berlangsung pada kehamilan dengan masa gestasi di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram, ( Abdul Bahri s, 2001: 166)

2.2 Konsep Dasar Nifas

2.2.1 Pengertian

Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir setelah kandungan kembali seperti sebelum hamil berlangsung. Kira-kita 6 minggu (Saifuddin, 2001)

2.2.2 Masa Nifas Dibagi Menjadi 3 Periode

2.2.2.1  Peurperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan

2.2.2.2

4

Peurperium intermedial adalah kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu

2.2.2.3  Remote peurperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan (Rustam Mochtar, 1998)

2.2.3 Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Nifas

2.2.3.1  Perubahan Fisik

Perubahan fisik yang terjadi pada masa nifas meliputi:

  1. Suhu tubuh

Beberapa hari setelah melahirkan suhu agak naik antara 370C – 37,50C. Bila suhu melebihi 380C dianggap tidak wajar (Depkes RI, 1997).

  1. Nadi

Nadi berkisar antara 60-80 kali permenit, segera setelah parus terjadi bradikardi (Hanifa, 2000).

  1. Tekanan Darah

Penirinan tekanan segera setelah persalinan sering terjadi akibat kehilangan darah yang berlebihan (Cunningham, 1995). Pada umumnya beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi post partum, tetapi akan menghilang dengansendirinya apabila tidak terdapat penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam ± 2 bulan tanpa pengobatan (Hanifa, 2000).

  1. Pernafasan

Pernafasan berada pada batas normal, teratur, cukup dalam, dengan frekuensi ±18 kali per menit. Apabila pernafasan tidak tertur, dangkal, berbunyi, frekuensi rendah atau tinggi menunjukkan keadaan jantung, paru-paru tidak normal (Christina, 1993)

2.2.3.2  Involusio alat-alat kandungan

Involusio adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan kelahiran setelah bayi dan plasenta dilahirkan hingga mencapai keadaan sperti sebelum hamil. Proses involusi terjadi karena adanya autolysis atau penghancuran jaringan. Otot-otot uterus yang tumbuh karena adanya hiperplasi, dari jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang sepuluh kali dan menjadi lima kali lebih tebal dari waktu hamil, dan akan susut kembali mencapai keadaan semula.

Aktivitas otot-otot yaitu adanya kontraksi dan retraksi dari otot-otot setelah anak lahir, untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk pengeluaran isi uterus yang tidak diperlukan.

Ischemia disebut juga lokal anemia yaitu kekurangan darah pada uterus. Kekurangan darah bukan saja disebabkan adanya kontraksi dan retraksi yang cukup lama tetapi juga disebabkan oleh pengurangan aliran darah yang ke uterus dalam masa hamil. Karena uterus membesar menyesuaikan dengan pertumbuhan janin. Untukmemenuhi kebutuhannya darah banyak dialirkan ke uterus, agar uterus dapat mengadakan hypertrophy dan hyperplasi.

Ketiga faktor tersebutsaling mempengarhi dengan yang lainnya dalam proses imvolusi uterus (Christina S. Ibrahim, 1996)

  1. Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

Table 1. Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi

Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba di atas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
  1. Bekas implatasi Uri

Placenta bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter  7, 5 cm. sesudah 2 minngu menjadi 3,5, pada minngu ke enam 2,4 cm dan akhirnya pulih.

  1. Rasa sakit atau after pains

Mules-mules yang disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan

  1. Lochia yaitu cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
    1. Locia rubra (cruenta) berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan nekoneum. Selama 2 hari persalinan (Rustam Moctar, 1998 ).
    2. Lochia sanguinolenta

Berwarna kuning berisi darah dan lendir hari ke 3 -7 pasca persalinan

  1. Lochia serosa

Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lahi pada hari ke 7 – 14 pasca persalinan.

  1. Lochia alba

Cairan putih setelah 2 minngu

  1. Lochia purulenta

Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah, berbau busuk.

  1. Lochia stasis

Lochia tidak lancer keluarnya.

  1. Serviks

Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti cokong berwarna merah kehitaman. Konsistensi lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.

  1. Ligamen-ligamen

Ligamen, fasia, dan diafgragma pelvis yang meregang pada pada waktu persalinan, setel;ah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus  jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamentum rotundum menjadi kendor.

  1. Perubahan dinding peryt dan peritoneum

Setelah persalinan dinding perut longgar karena begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam waktu enam minggu, kadang-kadang pada wanita yang astheisis terjadi diathesis terjadi diathenis dari otot rektus abdominis sehingga sebagian dari dinding perut (Rustam Moctar, 1998)

2.2.3.3 Laktasi

Laktasi yaitu pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Air susu ibu merupakan makanan pokok bagi bayio dan makanan yang terbaik yang bersifat alamiah (Hanifa, 1999)

Untuk menghadapi masa laktasi, sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mammae yaitu :

  1. Proliferasi jaringan pada kelenjar- kelenjar alveoli dan jaringan lemak bertambah.
  2. Keluaran cairan susu jolong dan duktus laktiferus disebut colostrums, berwarna kuning putih susu.
  3. Hipervaskulaisasi pada permukaan dan bagian dalam, diman vena-vena  berdilatasi sehingga tampak jelas.
  4. Setelah persalianan, pengaruh pengaruh hormone laktogenetik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Di samping itu pengaruh oksitosin menyebabkan mioepitel kelenjar susu berkontraksi  sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan (Rustam Moctar, 1998)

2.2.3.4  Perubahan Psikologi

  1. Bonding Attachment (Ikatan Kasih Sayang)

Terjadi pada kala IV, dimana diadakan dontak antara ibu, ayah, anak tetap dlam ikatan kasih. Karena perlu partisipasi suami dlam proses persalinan yang merupakan salah satu upaya dalam proses ikatan kasih tersebut. Menurut Neelson (1986) bonding attachment adalah dimulainyainteraksi emosi sensorik, fisik antara orang lain dan bayi segera setelah lahir dan terjadiikatan efektif yang terjalin diantara individu, meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab.

  1. Fase Honeymoon

Fase dimana anak lahir terjadi intimidasi dan kontak antara ibu – ayah, anak. Hal ini dapt dikatakan sebagai psikis honeymoon yang tidak memerlukan hal-hal yang romantika, masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru.

  1. Fase Taking In

Perhatian ibu terhadap kebutuhan dirinya mungkin pasif dan tergantung, berlangsung 1-2 hari. Ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya tetapi bukan berarti tidak memperhatikan. Dalam fase ini informasi yang dibutuhkan ibu adalah keadaan bayi, bukan cara merawat bayi. Ibu mengenang saat atau pengalaman melahirkan yang baru dialami, untuk memulihkan perlu tidur dan makanan yang adekuat.

  1. Fase Taking Hold

Ibu berusaha mandiri dan berinisiatif, mulai perhatian terhadap kelancaran fungsi tubuhnya, misalnya defekasi, miksi, aktifitas dan sebagainya. Ibu ingin belajar tentang perawatan diri dan bayinya. Pada saat ini kepercayaan ibu terhadap dirinya berkurang, hal ini tercetus dari perkataan ibu “saya tidak mampu………..”

2.2.4 Kebutuhan Dasar Masa Nifas

Kebutuhan dasar masa nifas meliputi:

2.2.4.1  Aktifitas/ Ambulasi Dini

Sebaiknya ibu-ibu post partum dapat melakukan ambulasi dini setelah kondisi fisiknya mulai membaik. Ambulasi dilakukan secara bertahap yaitu:

  1. Miring kanan/ miring kiri setelah 2 jam post partum
  2. Duduk sendiri setelah 6-8 jam post partum
  3. berjalan setelah 12 jaqm post partum

Mobilisasi di atas mempunyai variasi tergantung pada komplikasi persalinan nifas dan sembuhnya luka (Mochtar Rustam, 1998)

2.2.4.2  Istirahat

Istirahat disini bukan berarti istirahat fisiknya saja, melainkan jugamental. Maka ibu harus terhindar dari masalah-masalah yang menyebabkan tidak tenang. Kebutuhan istirahat/ tidur pada masa nifas antara 8 -10 jam sehari.

2.2.4.3  Nutrisi dan cairan

Makanan dan minuman merupakan faktor penting dalam pemulihan kondisi tubuh serta pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Maka diperlukan nutrisi tambahan dan tidak ada pembatasan cairan yang masuk. Ibu yang menyusui seharusnya:

  1. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
  2. Makan dengan diet berimbsng untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup.
  3. Minum sedikitnya 3 liter setiap hari.
  4. Minum pil zat besi untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin (Saifudin, 2001)

2.2.4.4  Perawatan Payudara (buah dada)

Perawatan buah dada dilakukan sejak klien hamil dengan tujuan agar laktasi dapat berjalan lancer. Puting susu perlu mendapat latihan pada fissura. Karena yang kering kemungkinan bertumpuk dan mengiritasi puting susu  (Cunningham, 1995).

2.2.4.5  Perawatan Vulva

Perawatan vulva dilakukan agar terhindar dari infeksi dan mempercepat penyembuhan luka episiotomi serta menjaga kebersihan (Christina I, 1996)

2.2.4.6  Latihan

Dengan  dilakukan latihan dapat mengembalikan otot-otot perut dan panggul. Latihan yang dilakukan beberapa menit setiap hari akan dapat bermanfaat (Saifudin, 2000)

2.2.4.7  Eliminasi Uri

  1. Eliminasi uri hendaknya dapat dilakukan sendiri setelah 6 jam pasca persalinan. Jika ibu belum dapat kencing spontan, dilakukan rangsang kencing dengan menyiram vulva dengan air hangat (Persis M.H., 1995)
  2. Eliminasi Alvi

Buang air besar harus dilakukan selambat-lambatnya 3-4 hari pasca persalinan. Bila sulit buang air besar dan terjadi obstipasi dapat diberikan obat laksans per oral atau per rectal (Persis M.H., 1995)

2.2.4.8  Keluarga berencana

Idealnya pasangan suami istri harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun untuk hamil kembali. Masa post partum merupakan saat yang paling baik untuk pemasangan alat kontrasepsi (Sastrawan, 1996)

2.2.4.9  Hubungan suami istri

Secara fisik aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri begitu darah merah berhenti. Tetapi budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri masa waktu tertentu 40 hari atau 6 minggu setelah melahirkan (Saefuddin, 2001)

2.2.5 Perawatan Masa Nifas

2.2.5.1  Tujuan Perawatan Nifas, yaitu:

  1. Mencegah infeksi, meningkatkan penyembuhan jaringan, involusi uterus dan meningkatkan kenyamanan.
  2. Meningkatkan istirahat, aktivitas dan keamanan, serta mencegah komplikasi dan inmobilisasi.
  3. Meningkatkan asupan makanan dan cairan yang adekuat
  4. Meningkatkan pembentukan laktasi san supresinya
  5. Memenuhi kebutuhan belajar ibu, kebersihan diri, perawatan parineal, perawatan payudara, latihan peregangan otot, hubungan seksual dan kontrasepsi.
  6. Meningkatkan rasa percaya diri serta penurunan stress.
  7. Mendorong untuk mempertahankan kesehatan melalui penggunaan sumber-sumber kesehatan yang ada di masyarakat (Persis M.H., 1995)

Hal yang perlu diperhatikan:

  1. Keadaan umum ibu: suhu, nadi, tensi
  2. Albumin dan oedema
  3. Involusi uterus
  4. Lochea
  5. Perawatan luka perineum
  6. Perawatan payudara
  7. Penyuluhan gizi ibu nifas, imunisasi, senam nifas, dan kebersihan diri

(Depkes RI, 1994)

2.2.5.2  Asuhan Nifas 6-8 jam post partum

  1. Mencegah perdarahan karena atonia uteri
  2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan berlanjut.
  3. Memberi konseling pada ibu atau satu keluarga bagaimana mencegah perdarahan nifas karena atonia uteri.
  4. Pemberian ASI awal
  5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
  6. Menjaga bayi tetap sehat dengan mencegah hypertermi (Saifuddin, 2001)

2.3 Seksio Sesaria

2.3.1 Pengertian

2.3.1.1  Seksio sesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Hanifa, 1999)

2.3.1.2  Seksio sesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh (Saifuddin, 2001)

2.3.2 Jenis Seksio Sesaria

2.3.2.1  Seksio Sesaria Efektif (Primer)

Dari semula sudah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio sesaria tidak diharapkan lahir biasa.

2.3.2.2  Seksio Sesaria sekunder

Dalam hal ini kita bersikap mencoba dalam menunggu kelahiran biasa (partus percobaan) baru bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, dilakukan seksio sesaria.

2.3.2.3  Seksio Sesaria Ulang (Repeat Caesarean Section)

Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami seksio sesaria

2.3.2.4  Seksio Sesaria Histerektomi (Repeat Caesarean Section Hysterectomy)

Adalah suatu operasi dimana setelah bayi dilahirkan dengan seksio sesaria, dikerjakan langsung histerektomi oleh karena suatu indikasi.

2.3.2.5  Operasi Porro (Porro Operation)

Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin sudah mati), maka langsung dilakukan histerektomi (Rustam mochtar, 1998).

2.3.3 Indikasi seksio Sesaria

2.3.3.1 Indikasi Dari Ibu

  1. Primigravida dengan kelainan letak
  2. Primigravida tua disertai: PRM, ERM, kelainan letak, disporporsi sevalo pelvic
  3. Sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk
  4. Terdapat kesempitan pinggul
  5. Plasenta privea terutama pada premi gravida, solusio plasenta, tingkat I-II
  6. Komplikasi kehamilan yaitu: pre eklamsia berat/ eklampsia
  7. Setelah operasi plastic vaginal, bekas luka/ sikatrik yang luas, vistula visiko vaginal, rekto vaginal.
  8. Gangguan perjalanan persalinan karena kista ovarium, mioma uteri, karsinoma serviks, kekakuan serviks

2.3.3.2 Indikasi dari janin

  1. Foetal distress/ gawat janin
  2. Mal presentasi dan malposisi kedudukan janin
  3. Prolapsus tali pusat dengan pemasukan kecil
  4. Kegagalan persalinan vacuum atau forcep ekstraksi

2.3.4 Bentuk Operasi Seksio Sesaria

2.3.4.1  Sectio caesaria klasik menurut Sanger

2.3.4.2  Sectio caesaria transperitoneal profunda menurut Kehrer

2.3.4.3  Sectio Caesaria histerektomi menurut porro

2.3.4.4  Sectio caesaria ekstrakperitoneal

(Manuaba, 1999)

2.3.5 Komplikasi Seksio Sesaria

2.3.5.1 Infeksi Puerperal (Nifas)

  1. Ringan dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
  2. Sedang dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit gembung
  3. Berat dengan peritonitis, septis, dan ileus paralitik. Hal ini sering dijumpai pada partus kasep, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intra partal karena ketubanyang telah terlalu lama.

2.3.5.2 Perdarahan, disebabkan karena:

  1. Banyak pembuluh darah terputus dan terbuka
  2. Atonia uteri
  3. Perdarahan pada plasenta bed

2.3.5.3 Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih

Seperti tonialisasi terlalu tinggi.

2.3.5.4 Kemungkinan rupture Spontan

Pada kehamilan mendatang.

2.3.5.5 Komplikasi luka insisi

  1. Sebagian atau seluruh luka tertutup baik, sebagian dengan eksudat dalam jumlah sedang atau banyak dan keluar melalui lubang-lubang (vistel) dan terinfeksi.
  2. Luka terbuka sebagian bernanahdan terinfeksi.
  3. Luka terbuka seluruhnya dan usus kelihatan/ keluar
  4. Luka tersebut memerlukan perawatan khusus sampai memerlukan reinsisi untuk membuat luka baru dan menutupnya kembali. Ini sering dujumpai pada kasus kebidanan dengan diabetes mellitus, obesitas.

2.3.6 Prognosis Seksia Sesaria

Angka kematian pada rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan tenaga yang terampil 2 : 1000. Nasib janin yang ditolong tergantung keadaan pre operasi. Dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal sekitar 4-7% (Rustam Mochtar, 1998). Untuk persalinan berikutnya tergantung indikasi seksio sesaria dan keadaan kehamilan berikutnya.

2.5 Konsep Asuhan Kebidanan pada Nifas Post Seksio Sesaria Indikasi solusio placenta

2.5.1 Pengertian

Asuhan kebidanan adalah aktivitas atau interversi yang dilaksanakan oleh bidan kepada klien yang mempunyai kebutuhan atau permasalahan khususnya dalam bidang KIA/KB (Noegroho Imam S., 1995)

2.5.1.1 langkah-langkah kebidanan pada ibu nifas post secsio sesaria indikasi solusio plasenta

2.5.1.1.1 Data Subyektif dan Data Obyektif

  1. 1. Data Subyektif

1) Biodata Ibu dan Suami

  1. Nama : yang jelas dan lengkap, digunakan untuk membedakan dengan pasien lain.
  2. b. Umur : dalam tahun, unutk mengetahui usia dan untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan.
  3. c. Agama: untuk menudahkan bidan dalam melakukan pendekatan dalam asuhan kebidanan.
  4. d. Suku/ bangsa : untuk menentukan prognosa persalinan dengan melihat keadaan pangggul.
  5. e. Pendidikan: untuk mengetahui tingkat pendidikan pasien serta mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.
  6. f. Pekerjaan : untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonomi pasien dan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pekerjaan dengan permasalahan kesehatan dan pembiayaan.
  7. g. Penghasilan : unutk mengetahui tingkat sosial ekonomi yang berhubungan dengan biaya
  8. h. Alamat : untuk mengetahui pasien tinggal dimana, agar mempermudah menghubungi bila dalam keadaan mendesak dan memberi petunjuk tentang keadaan lingkungan pasien
  9. i. Perkawinan : untuk membantu menentukan bahgaimana keadaan alat reproduksi pasien, misalnya pada ibu yang telah lama kawin dan baru mempunyai anak, kemungkinan ada kelainan pada alat reproduksinya.

2) Anamnesa

  1. a. Alasan Masuk Rumah Sakit (MRS)

Yang dikaji hari, tanggal, jam masuk Rumah Sakit, mengapa klien datang/ masuk ke rumah Sakit.

  1. b. Keluhan utama

Adakah keluhan yang dirasakan oleh klien pada saan pengkajian baik fisik maupun psikis, apakah merasakan nyeri pada luka operasi, apakah perutnya kembung.

  1. c. Riwayat menstrusai

Menarche umur berapa, siklus dan lamanya teratur/ tidak, banyaknya darah yang keluar, dysmenorhoe, fluor albus, kapan menstruasi yang terakhir, untuk mengatahui usia kehamilan, dan penafsiran persalinan.

  1. d. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu

Yang dikaji perkawinan yang ke berapa, usia kehamilan yang cukup bulan atau kurang, pernah keguguran atau tidak, jenis atau cara persalinan, normal (spontan) atau dengan tindakan, ditoling siapa, tempat melahirkan dimana, ada penyulitnya atau tidak, jenis bayi, berat badan dan panjang badan waktu lahir, umur,hidup atau mati, menetek atau tidak, lamanya, keluarga berencana yang pernah diikuti.

  1. e. Riwayat kehamilan sekarang

Data yang dikaji, hamil anak yang ke berapa, usia kehamilan, pergerakan anak yang pertama kali kapan dirasakan, dimana memeriksakan kehamilannya, berapa kali sudah mendapat suntik imunisasi TT atau belum, berapa kali, obat-obatan apa yang di dapat, keluhan apa yang dirasakan, sudah mendapat penyuluhan mengenai apa saja dari petugas kesehatan atau bidan.

  1. f. Riwayat persalinan sekarang

Yang dikaji, hari tanggal dan jam berapa melahirkan, jinis bayi, keadaan waktu lahir, berat dan panjang bdan bayi, bagaimana proses persalinannya, berapa lama, bila dengan tindakan atas indiksi apa.

  1. g. Riwayat Keluarga Berencana (KB)

Pernahkah mengikuti KB sebelumnya, jenis kontrasepsi yang digunakan, kalau pernah ikut berapa lama, efek samping yang dirasakan, alasan pemberian, bila klien berhenti, rencana menggunakan kontrasepsi lagi, apakah ada ikut KB lagi setelah melahirkan

  1. h. Riwayat kesehatan

a) Riwayat kesehatan yang pernah atau sedang diderita

Apakah klien pernah atau sedang menderita penyakit, menahun, menular, dan apakah klien pernah di operasi, alasan di operasi, kapan dan di mana.

b) Riwayat Penyakit Keluarga

Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang menahun dan menular. Apakah ada keluarga yang melahirkan kembar, baik dari pihak istri maupun suami. Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan ibu maupun bayinya.

c) Perilaku Sehat

Yang dikaji kalau sakit diperiksakan kemana.

  1. i. Riwayat Psikososial

Apakah kelahiran bayinya ini diharapkan oleh klien, suami atau keluarganya. Bagaimana perasaan ibu atau suami dan keluarga dengan jenis kelamin anaknya, baagimana dukungan suami dan keluarga terhadap kelahiran bayinya. Bagaimana hubungan klien dengan suami, keluarga, dan tetangga.

  1. j. Riwayat sosial Budaya

Apakah ada adapt istiadat yang dianut atau diyakini selama masa nifas.

  1. k. Pola Kehidupan Sehari-hari

Untuk mengetahui sberapa klien dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan masalah-masalah yang timbul sebelum dan setelah melahirkan.

a) Pola Nutrisi

Bagaimana kebiasaan dalam pemenuhan nutrisi sebelun atau sesudah melalui rasa sakit. Apakah klien menghabiskan porsi nutrisi yangdusediakan di Rumah sakit. Bagaimana pola minumnya, makan dan jumlahnya dalam sehari.

b) Pola eliminasi

Sebelum MRS:

Bagaimana pola defekasi dan miksinya, berapa kali dalam 1 hari, apakah ada keluhan, konsistensinya

Waktu MRS:

Defekasi: apakah klien sudah defekasi, kapan, berapa kali, adakah keluhan. Miksi : berapa kali, apakah klien masih dipasang dower kateter, berapa jumlah urinenya, warnanya.

c) Pola aktivitas

Pada klien dengan post seksio sesaria yang perlu dikaji, bagaimana kemampuan klien dalam melaksanakan mobilisasi.

d) Pola istirahat/ tidur

Bagaimana pemenuhan terhadap istirahatnya sebelum dan setelah melakukan. Apakah klien mengalami gangguan atau kesulitan dalam istirahat.

e) Pola personal hygiene

Personal hygiene sebelum masuk rumah sakit dan selama di Rumah Sakit. Berapa kalai sehari, mandi, gosok gigi, cuci rambut (keramas), ganti pakaian, celana, BH.

f) Pola seksual

Bagaimana pola seksualitas yang dilakukan sebelum klien masuk Rumah Sakit. Pola seksualitas dapat dilakukan 40 hari atau 6 minggu setelah melahirkan atau setelah masa nifas selesai. Namun dianjurkan untuk KB lebih dahulu. Data yang dikaji frekuensi seksual dan apakah ada keluhan atau tidak sewaktu malakukan hubunganseksual.

2.5.1.1.2  Data Obyektif

1) Pemeriksaan umum: keadaan umum, kesadaran, berat badan, tinggi badan, tanda-tanda vital.

2) Pemeriksaan Fisik:

  1. a. Inspeksi

a)      Keadaan umum           : baik/tidak

b)      Postur tubuh                : nomal/tidak

c)      Ekspresi wajah            : sedih/senang

d)     Kepala                         : ada benjolan/ luka/ tidak

e)      Rambut                       : warna dan kebersihanya

f)       Muka                     : pucat atau tidak, ada chloasma gravidarum atau tidak

g)      Mata                            : conjunctiva pucat/anemis, sclera ikterus

atau tidak

h)      Hidung                        : normal atau ada polip

i)        Telinga                        : bagaimana pendengarannya

j)        Mulut                            :Bibir merah/ pucat/ kering, gigi ada karies atau tidak

k)      Leher                             : adakah pembesaran kelenjar thyroid, pembesaran vena jugularis, pembesaran kelanjar getah bening.

l)        Dada                             : simetris atau tidak.

m)    Payudara                       : membesar atau tidak, areola mammae tampak hyperpigmentasi atau tidak, puting susu menonjol atau tidak, kebersihannya.

n)      Abdomen                      : membesar atau tidak, striae ada atau tidak, linea tampak atau tidak, keadaan luka operasi basah/ kering/ ada perdarahan/tidak

  • o)      Vulva                            : oedema/tidak, ada varises atau tidak, pengeluaran pervagina, lochea: waranya, bau atau tidak, apakah terpasang dower kateter, produksi urine: jumlah dan warnanya

p)      Anus                              : ada varies atau tidak, ada hemoroid atau tidak

q)      Ekstermitas atas dan bawah: akral hangat/ dingin, adakan oedema pada jari-jari, adakah oedema pada kaki, adakah varises, reflek.

  1. b. Palpasi

Abdomen untuk mengetahui tinggi fundus uteri, kontraksi uterus keras atau lemah

  1. c. Auskultasi

Untuk mengetahui bunyi bising usus sudah ada atau belum

3) Pemeriksaan penunjang

  1. a. Laboratorium

Darah: Hb normal >11 gram%

Urine: albumin positif/ negative, reduksi positif/ tidak

  1. USG: dilakukan atau tidak

4) Terapi yang diberikan

Antibiotika dan analgesik

2.5.1.1.3 Asesment

Diagnosa adalah post partum dengan SC hari ke-2 indikasi Solusio Placenta.

2.5.1.1.4  Planning

Melakukan sesuai apa yang telah ada dalam rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, pelaksanaan tindakan perlu dilaporkan secara tertulis guna kesinambungan suatu tindakan (Syahlan, 1993 : 131)

BAB 4

PEMBAHASAN

Di dalam karya tulis ini, penulis akan membahas tentang kendala atau hambatan melaksanakan asuhan kebidanan pada klien dengan post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta hambatan tersebut menyangkut kesenjangan antara latar belakang dengan kasus, dan antara teori yang didapat selama kuliah dengan praktek langsung di lapangan, berikut pemecahan masalah yang penulis lakukan, sehingga asuhan kebidanan yang diharapka dapat terselesaikan.

Untuk mempermudah penyusunan pembahasan ini penulis akan mulai membahasnya dari latar belakang pendahuluan, kemudian mengelompokkan permasalahannya sesuai tahap-tahap proses asuhan kebidanan, yaitu tahap pengkajian, analisa diagnosa/masalah, diagnosa potensial, tindakan segera, perencanaan dan tindakan/ serta tahap penialaian atau evaluasi

1.1 Tahap Pengkajian

Pada tahap pengkajian, data subyektif dan data obyektif, penulis tidak menemukan kesulitan baik melalui wawancara langsung maupun melalui pengamatan terhadap klien dan keluarganya. Hal ini dikarenakan klien mudah diajak berkomunikasi dan bekerjasama dengan baik.

1.2 Analisa Diagnosa/Masalah

Setelah dianalisa ternyata didapatkan satu diagnosa dan dua masalah kebidanan yaitu diagnosa P10001 post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta, masalah nyeri luka operasid dan keterbatasan aktivitas. Hal ini berbeda dengan masalah yang ada pada tinjauan pustaka. Pada tinjauan pustaka terdapat 3 permasalahan. Dua diantaranya ditemukan saat penulis melaksanakan asuhan kebidanan sedang masalah yang tidak ditemukan pada kasus ini adalah potensial terjadi perdarahan dan infeksi. Hal ini dikarenakan petugas dalam melakukan perawatan cukup memenuhi standar atau protap yang ada di ruangan.

1.3 Diagnosa Potensial

Diagnosa potensial terjadi perdarahan dan infeksi tidak ditemukan, hal ini karena perawatan yang berkesinambungan dan tindakan yang dilakukan sesuai dengan standar protap yang ada. Tidak terjadi perdarahan karena plasenta lahir lengkap dan terapi yang adekuat. Dan tidak terjadi infeksi karena sarana dan prasana yang cukup memenuhi standar pelayanan kebidanan. Dimana kesterilan alat-alat untuk operasi dan perawatan luka cukup terjaga. Yaitu melalui proses dekontaminasi dengan larutan khlorin 0,5%, pencucian dengan sabun dan dibilas dengan air mengalir, kemudian diproses secara desifeksi tingkat tinggi dan sterilisasi

1.4 Tindakan Segera

Pada kasus ini tidak dilakukan tindakan segera karena tidak terjadi perdarahan post seksio sesaria dan tidak terjadi infeksi. Hal ini dikarenakan tindakan yang tepat dari perawatan yang sesuai dengan protap/standar.

1.5 Tahap perencanaan (Planning)

Sesuai dengan diagnosa atau masalah yang muncul saat penulis melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan post seksio sesaria indikasi letak sungsang dimana diagnosa pertama adalah P10001 post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta rencana tindakan sesuai dengan tercantum dalam tinjauan teori.

Begitu juga pada diagnosa masalah pertama, kedua dan ketiga, semua rencana tindakan sesuai dengan yang tercantum dalam tinjauan tteori. Jadi dalam tahap perencanaan ini tidak ada hambatan yang penulis jumpai karena sarana, prasarana dan sumber daya dari klien, keluarga dan ruang bersalin tempat melaksanakan asuhan kebidanan memungkinkan untuk membuat rencana tindakan sesuai prinsip-prinsip ilmu kebidanan dan protap yang ada.

1.6 Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan ini penulis melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan rencana yang telah dibuat atau ditetapkan yaitu pada diagnosa P10001 post seksio sesaria indikasi letak sungsang dalam pelaksanaanya penulis tidak ada hambatan. Hal ini dikarenakan adanya kerja sama yang baik, antara petugas, klien, keluarga, sehingga dapat melaksanakana asuhan kebidanan sampai kondisi klien stabil dan masalah teratasi

1.7 Evaluasi

Pada tahap evaluasi tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus. Pada tahap ini setelah melakukan penilaian dari asuhan kebidanan  yang telah diberikan pada klien. Penulis mencatat perkembangan hasil akhir yang diperoleh sesuai dengan tujuan kriteria evaluasi yang terdapat pada tinjauan pustaka. Konsep dasar asuhan kebidanan yaitu tidak terjadi komplikasi pada klien dengan post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta.

BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

1.1 Simpulan

Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan post seksio sesasri indikasi letak sungsang dan menulis tinjauan pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa ibu hamil dengan Solusio Placenta segera dirujuk dan dilakukan tindakan, jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan kematian bayi yang dikandungnya.

Asuhan kebidanan pada post seksio sesaria meliputi:

1.1.1        Tahap pengkajian merupakan tahap yang paling penting dan mendasari asuhan kebidanan pada klien dengan post seksio sesaria, sehingga untuk menggali dan mengumpulkan data yang lengkap diperlukan kemampuan komunikasi yang efektif, selain itu faktor sikap, tingkah laku, ketrampilan, dan penguasaan ilmu secara teoritis dapat membantu terlaksananya asuhan kebidanan dengan baik. Data tersebut sebagai dasar dalam menganalisa diagnosa/ masalah, diagnosa potensial dan tindakan segera

1.1.2        Analisa data dan diagnosa/ masalah

Dalam asuhan kebidanan pada klien post seksio sesaria indikasi Solusio Placenta penulis menemumkan 3 masalah : P10001 post seksio sesaria, nyri luka operasi, dan keterbatasan aktivitas, dari semua masalah tersebut dapat teratasi, karena klien dapat diajak kerjasama dan kooperatif, sehingga perawatan yang berkesinambungan dapat berhasil.

1.1.3        Menyusun rencana tindakan kebidanan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan klien

1.1.4        Melaksanakan tindakan kebidanan meliputi pendidikan kesehatan, bersama-sama dengan klien. Keluarga melakukan mobilisasi dini secara bertahap, perawatan buah dada, observasi tanda-tanda vital, involusi uteri serta kolaborasi dengan tim medik untk menetapkan terapi.

1.1.5        Hasil evaluasi dari kegiatan yang sudah dilaksanakan merupakan penilaian tentang keberhasilan asuhan kebidanan dari pelaksanaan diagnosa dan masalah.

1.2 Saran

1.2.1 Untuk Klien dan keluarga

1.2.1.1  Agar klien memeriksakan diri serta bayinya secara teratur sesuai jadwal yang ditentukan

1.2.1.2  Diharapkan klien menyusui bayinya sesuai dengan kebutuhan

1.2.1.3  Diharapkan klien makan makanan sesuai kebutuhan

1.2.2 Untuk penulis yang akan datang

1.2.2.1  Untuk keberhasilan dalam asuhan kebidanan diperlukan kerjasama antara klien, keluarga dan petugas kesehatan dalam melakukan tindakan.

1.2.2.2  Hendaknya dalam melaksanakan asuhan kebidanan dilakukan pendekatan secara terapeutik.

1.2.2.3  Dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien hendaknya diberikan secara utuh meliputi Bio-Psiko-Sosial dalam konteks keluarga.

KEBUTUHAN GIZI NORMAL BAYI TRIMESTER II ( 4 – 6 BULAN )

KEBUTUHAN GIZI NORMAL BAYI TRIMESTER II

( 4 – 6 BULAN )

I.      Kebutuhan air             : 150 – 175 cc / Kg BB / Hari.

II.     Kebutuhan Kalori       : 110 – 120 Kal /  Kg BB / Hari.

  1. Kebutuhan Karbohidrat dan Lemak

1.   Karbohidrat                : 50% -60% dari kebutuhan Kalori /Hari.

2.   Lemak                        : 15% -20% dari kebutuhan Kalori / Hari.

IV.   Kebutuhan Protein      : 2,5 gr /Kg BB / Hari.

  1. Kebutuhan Vitamin dan Mineral tercukupi dalam nutrien lain.

A .PEMBAHASAN :

I. Diketahui : Usia Bayi  5 bulan dengan berat badan 7 Kg.

Ditanya    : Berapa kebutuhan air?

Jawab       : 150 x 7 = 1050 cc / Hari.

175 x 7 = 1225 cc / Hari.

Jadi kebutuhan air pada bayi tersebut adalah : 1050  – 1225 cc / Hari.

II. Ditanya : Berapa Kebutuhan Kalorinya ?

Jawab    : 110 x 7 = 770 Kal / Hari.

: 120 X 7 = 840 Kal / Hari.

Jadi kebutuhan Kalori pada bayi tersebut adalah : 770 – 840 Kal / Hari.

III. Ditanya : Berapa kebutuhan Karbohidrat dan lemak ?

Jawab    : 1. Kebutuhan Karbohidrat :

50% dari 770 = 385 Kal.

60% dari 770 = 462 Kal.

50% dari 840 = 420 Kal.

60% dari 840 = 504 Kal.

385 : 4 = 96 Kal / Hari.                  462 : 4 = 115 Kal / Hari

420 : 4 = 105 Kal / Hari.                504 : 4 = 126 Kal / Hari.

Jadi kebutuhan Karbohidrat pada Bayi tersebut adalah :

96 Kal / Hari – 126 Kal / Hari

2. kebutuhan lemak  :

15% dari 770 = 115,5 Kal.

20% dari 770 = 154 Kal.

15% dari 840 = 126 Kal.

20% dari 840 = 168 Kal.

115.5 : 9 = 12, 8 Kal / Hari         154 : 9 = 17 Kal /Hari.

126 : 9 = 14 Kal / Hari.               168 : 9 = 18,6 Kal / Hari

Jadi kebutuhan lemak pada bayi tersebut adalah :

12,8 Kal / Hari – 18,6 Kal / Hari.

IV. Ditanya : Berapa kebutuhan proteinnya ?

Jawab    : 2,5 x 7 = 17,5 .

17,5 x 4 = 70 kal / hari.

Jadi kebutuhan protein pada bayi tersebut adalah :

70 Kal / Hari.

sisa kebutuhan kalori pada bayi tersebut adalah :

770 – ( 96 + 12,8 + 70 ) = 591,2 Kal / Hari.

840 – ( 126 + 18,6 + 70 ) = 625,4 Kal / Hari.

Jadi sisa kebutuhan kalori pada bayi tersebut adalah :

591,2 Kal / Hari – 625,4 Kal   / Hari.

B. KESIMPULAN :

Jadi kebutuhan gizi normal pada bayi trimester II  usia 5 bulan dengan BB 7 kg :

1. Kebutuhan air                 : 1005 – 1225 cc/ Hari.

2. Kebutuhan kalori            : 770 – 840 Kal / Hari.

3. Kebutuhan Karbohidrat  : 90 – 126 Kal / Hari

4. Kebutuhan Lemak           : 12,8 – 18,6 Kal / Hari.

5. Kebutuhan Protein          : 70 Kal / Hari.

6. Sisa kebutuhan kalori      : 591,2 – 625,4 Kal / Hari.

NUTRISI PADA ANAK

NUTRISI PADA ANAK

A.    PENGERTIAN

Nutrisi atau zat makanan adalah merupakan bagian dari makanan termasuk didalamnya air, protein dan asam amino yang membentuknya, lemak dan asam lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin.

ZAT GIZI YANG TERKANDUNG DALAM MAKANAN

  1. Air

Kebutuhan tubuh akan air merupakan urutan kedua setelah kebutuhan oksigen. Fungsi dari air bermacam-macam. Air merupakan komponen terpenting dari struktur tubuh dan dalam fungsinya sebagai pelarut, maka air memainkan peranan dasar dalam reaksi seluler. Air mengatur suhu tubuh dengan mengambil panas yang dihasilkan pada reaksi seluler dan mendistribusikannya ke seluruh tubuh. Air penting sebagai pelumas tubuh misalnya saliva, memungkinkan makanan masuk ditelan.

  1. Protein dan Asam Amino

Fungsi protein adalah :

  1. Penunjang pertumbuhan, protein merupakan bahan padat utama dari otot, organ dan glandula endokrin. Merupakan unsur utama dari matrix tulang dan gigi, kulit, kuku, rambut, sel darah dan serum.
  2. Pengaturan proses tumbuh, protein mempunyai fungsi yang sangat khusus dalam pengaturan proses-proses tubuh misalnya, Hb melakukan peranan vital membawa oksigen ke jaringan
  3. Energi, protein merupakan sumber energi potensial, setiap gramnya menghasilkan 4 Kkal (0,01 MJ), jika protein digunakan untuk energi maka tidak akan dipakai untuk kebutuhan sintesis.

Sumber protein :

  • Kandungan protein tinggi pada susu, daging, ikan, unggas, keju, biji-bijian
  • Kandungan protein menengah pada telur, kacang-kacangan, tepung, biji-bijian, susu cair.
  • Kandungan protein rendah sebagian besar pada buah-buahan dan sayur-sayuran.
  1. Lemak dan Asam Lemak

Fungsi utama  lemak adalah memberikan energi, Lemak bertindak sebagai karier dari vitamin A,,D ,E, K, yang larut dalam air dan memberikan rasa yang menyenangkan dan memberikan perasaan kenyang karena kecepatan pengosongan dari lambung.

Sumber makanannya adalah baik susu ASI dan sapi mengandung sekitar 50% kal lemak. Sekitar 4% dari kalori total dalam ASI diberikan oleh asam linoleat. Sumber makanan lain adalah minyak, LARD, mentega, margarine dan bumbu selada yang merupakan sumber lemak yang paling pekat.

  1. Karbohidrat

Gula dan zat tepung merupakan sumber utama energi manusia.

Fungsi karbohidrat :

  1. energi, setiap gram karbohidrat yang dioksidasi rata-rata menghasilkan 4 kal. Sejumlah karbohidrat dalam bentuk glukose, akan digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan energi jaringan. Sebagian kecil disimpan sebagai glikogen dalam hepar dan otot dan beberapa akan disimpan sebagai jaringan adiposa.
  2. Aksi pencadangan protein, tubuh akan menggunakan karbohidrat sebagai sumber utama energi, karena itu jika terdapat defisiensi kalor dalam diet maka akan digunakan jaringan adiposa dan protein
  3. Pengaturan metabolisme lemak, diperlukan sejumlah karbohidrat dalam diet sehingga oksidasi lemak dapat berlangsung dengan normal. Jika karbohidrat dalam diet terbatas, maka lemak akan dimetabolisir lebih cepat daripada penanganan tubuh terhadap produk metabolisme ini. Jika lemak tidak dioksidasi dengan lengkap maka akan terbentuk keton.
  4. Peranan dalam fungsi gastrointestinal, diduga laktosa mempercepat pertumbuhan bakteri yang diperlukan dalam usus kecil, bakteri ini berguna untuk sintesis vit B kompleks dan vit K.

Sumber Karbohidrat : pada diet bayi muda laktosa merupakan karbohidrat predominan yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi. Dengan semakin besarnya anak-anak ditambahkan biji-bijian, roti dan makanan lain seperti kentang.

CARA PEMBERIAN MAKAN SELAMA ANAK SAKIT DAN SEHAT

  1. Umur 0 – 4 Bulan
  • Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari, siang maupun malam.
  • Jarngan diberikan makanan atau minuman lain selain ASI
  1. Umur 4 – 6 Bulan
  • Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari, siang maupun malam.
  • Beri makanan pendamping ASI 2 kali sehari, tiap kali 2 sendok makan
  • Pemberian makanan pendamping ASI dilakukan setelah pemberian ASI
  • Makanan pendamping ASI adalah :

Þ Bubur tim lumat ditambah kuning telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.

  1. Umur 6 – 12 Bulan
  • Berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai dengan keinginan anak
  • Berikan bubur nasi ditambah telur / ayam / ikan / tempe / tahu / daging sapi/ wortel / bayam / kacang hijau / santan / minyak.
  • Makanan tersebut diberikan 3 kali sehari. Setiap kali makan diberikan sebagai berikut :

Umur 6 Bulan      :           6 sendok makan

Umur 7 Bulan    :  7 sendok makan

Umur 8 Bulan    :  8 sendok makan

Umur 9 Bulan    :  9 sendok makan

Umur 10 Bulan  :  10 sendok makan

Umur 11 Bulan  :  11 sendok makan

  • Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti : bubur kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari dan sebagainya.
  1. Umur 12 – 24 Bulan
  • berikan Air Susu Ibu (ASI) sesuai keinginan anak
  • Berikan nasi lembik yang ditambah telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging sapi/wortel/bayam/kacang hijau/santan/minyak.
  • Berikan makan tersebut 3 kali sehari
  • Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti:
  • Bubur kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari dan sebagainya.
  1. Umur 2 Tahun atau Lebih
  • Berikan makanan yang biasa dimakan oleh keluarga 3 kali sehari yang terdiri dari nasi, lauk,pauk,sayur dan buah.
  • Berikan juga makanan yang bergizi sebagai selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti :

Þ    Bubur kacang hijau

Þ    Biskuit

Þ    Nagasari.

Catatan : (Cucilah tangan sebelum menyuapkan makanan anak).

(Gunakan bahan makanan yang baik dan aman, peralatan masak yang bersih dan cara memasak yang benar).

Anjuran Pemberian Makan untuk anak dengan Diare Persisten :

  • Jika masih mendapatkan ASI, berikan lebih sering dan lebih lama, siang dan malam.
  • Jika anak mendapat susu selain ASI :

Þ    Gantikan dengan meningkatkan pemberian ASI atau

Þ    Gantikan dengan setengah bagian susu dengan bubur nasi dan ditambah tempe

Þ    Jangan diberi susu kental manis.

  • Untuk makanan lain, ikuti anjuran pemberian makanan yang sesuai dengan umur anak.

Peningkatan Kesehatan Mata

  1. I. Peningkatan Kesehatan Mata

Banyak orang menggunakan tetes mata dengan maksud membersihkan mata dan kotoran. Sesungguhnya hal tersebut tidak perlu dilakukan karena mata sudah dilengkapi oleh sistem untuk membersihkan dan mempertahankan mata dari infeksi.

Cairan terbaik untuk membersihkan mata adalah yang diproduksi oleh kelenjar lakrimalis. Cairan ini mengandung garam dan protein yang membantu menurunkan ketegangan. Justeru dengan penggunaan obat tetes mata akan menyebabkan masuknya bakteri dalam mata.

Bila membaca dengan jarak terlalu dekat akan membuat mata cepat lelah dan memudahkan terjadinya gangguan penglihatan. Jarak yang baik 30 – 35 cm.

Bagi pekerja yang selalu berdekatan dengan obyek atau bekerja dengan obyek yang kecil maka perlu merencanakan istirahatt secara berkala untuk mengistirahatkan secara berkala untuk mengistirahatkan otot – otot mata.

Menonton televisi sebaiknya dengan jarak 3,5 – 4 meter untuk menghindari kelelahan dan kerusakan mata

  1. II. Mencegah Kecelakaan Mata

  1. Untuk anak berikan mainan yang dapat meningkatkan perkembangan intelektual dan penglihatan. Jangan memberikan mainan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan pada mata seperti pistol – pistolan atau panah – panahan.
  2. Cegah anak berlari sambil membawa benda tajam dan memutar – mutar sesuatu seperti ikat pinggang.
  3. Anak – anak yang memakai kaca mata pada waktu olah raga dianjurkan untuk memakai pelindung mata.
  4. Orang – orang yang bekerja di pabrik metal atau yang menggunakan zat kimia kuat atau orang yang bekerja pada tempat silau dianjurkan untuk memakai pelindung mata.

III. Prinsip Pertolongan Pertama Untuk Benda Asing Di Mata

  1. Cucilah mata  selama kurang lebih 15 menit untuk pertolongan zat kimia yang masuk ke mata dengan air bersih yang mengalir. Jangan merendam.
  2. Tutuplah mata untuk mencegah penekanan lebih lanjut dan segera bawa ke dokter untuk benda asing yang masuk ke mata
  3. Bila ada perdarahan pada mata jangan mencoba untuk menghentikannya karena tekanan akan memperburuk kerusakan yang terjadi.
  4. Bila benda asing masuk kornea jangan menggosok mata. Segera bawa ke dokter agar benda tersebut dikeluarkan secara steril
  5. Bila benda asing masuk ke konjungtiva dan dapat dilihat, dengan hati – hati angkat benda itu menggunakan sapu tangan yang bersih atau dengan membasahi lidi kapas yang bersih atau tissue yang bersih.
  6. Bila menemukan mata yang hitam segera minta pertolongan dokter.

IV. Tanda –Tanda Bahaya atau Kerusakan Mata

  1. Kemerahan pada mata yang bertahan lama.
  2. Rasa nyeri yang terus menerus terutama sesudah trauma
  3. Mata tertutup atau sulit dibuka pada anak – anak
  4. Penglihatan kabut atau merasa ada bintik – bintik atau benda melayang – layang pada mata.
  5. Ada sesuatu yang nampak tumbuh pada mata yang transparan atau pada kelopak mata.
  6. Keluarnya sekret atau cairan yang terus menerus atau adanya keropeng mata
  7. Pupil yang tidak dapat melihat target, seperti mata kucing.
  1. V. Cara Pemberian Obat Mata
    1. 1. Tetes mata
      1. Cuci tangan sebelum memberikan tetes mata
      2. Bersihkan mata sebelum ditetesi dari cairan nanah atau keropeng dengan menggunakan kapas lembab steril atau hangat dari arah dalam keluar
      3. Posisi pasien bisa duduk dengan kepala agak tengadah dan pasien disuruh melihat ke atas.
      4. Tarik kelopak mata bawah dan teteskan obat ke dalam kantung konjungtiva, sambil menekan bagian kelopak mata bawah dekat hidung.
      5. Bila obat diberikan 1 – 2 tetes, jangan langsung mengedipkan mata.
      6. Jelaskan agar pasien tidak mengedipkan matanya terlalu keras karena ini akan menyebabkan keluarnya obat dari mata
  1. 2. Salep mata

Prinsipnya sama dengan tetes mata yang penting hindari ujung pipet menyentuh atau tube menyentuh konjungtiva atau bagian mata lainnya.

IMUNISASI

IMUNISASI

I. Pengertian

Imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan kepada bayi dan anak serta ibu hamil terhadappenyakit tertentu.

II. Tujuan Imunisasi

Membentuk daya tahan tubuh sehingga bayi/anak terhndar dari penyakit tertentu dan kalau terkena penyakit tidak menyebabkan kecacatan atau kematian.

III. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

1. Penyakit TBC

Penyakit TBC sangat menular dan menyerang semua umur. Banyak terdapat pada masyarakat dengan ekonomi rendah, kurang gizi dan pada daerah perumahan padat. Ditandai dengan :

- Batuk lebih dari 2 minggu, dahak dapat bercampur darah.

- Nafsu makan menurun, BB menurun.

- Berkeringat malam tanpa aktifitas.

* Tes Mantoux : untuk menguji apakah pernah terinfeksi kuman TBC.

2. Penyakit Difteri

Difteri merupakan penyakit menular, teutama menyerang anak kecil. Ditandai dengan :

- Leher bengkak, terbentuk selaput putih kelabu dikerongkongan dan hidung sehingga menyumbat jalan napas.

- Anak gelisah karena sesak napas yang makin berat.

Anak tekak dan amandel membengkak dan merah.

3. Penyakit Batuk Rejan / Batuk Seratus Hari

Batuk Rejan adalah penyakit menular yang menyerang anak-anak. Ditandai dengan :

- Diawali batuk pilek biasa yang berlangsung sekitar 7 – 14 hari. Kemudian diikuti batuk hebat yaitu lebih keras dan menyambung terus 10 – 30 kali disertai tarikan napas dan berbunyi, kemudian muntah, muka merah sampai biru dan mata berair.

- Batuk batuk berlangsung beberapa minggu kemudian berkurang. Penyakit ini dapat menyebabkan radang apru-paru dan terjadi kerusakan otak sehingga dapat menyebabkan kejang, pingsan sampai terjadi kematian.

4. Penyakit Tetanus

Penyakit Tetanus menyerang semua umur, yang menyebabkan masalah yang cukup besar di Indonesia karena banayk bai yang baru lahir mati akibat penyakit tersebut. Ditandai dengan :

- Kejang / kaku seluruh tubuh.

- Mulut kaku dan sukar dibuka, punggung kaku dan melengkung.

- Kejang dirasakan sangat sakit.

- Pada bayi yang baru lahir (5 – 28 hari) mendadak tidak dapat menetek karena mulutnya kaku dan mencucu seperti mulut ikan.

5. Penyakit Polimielitis

Polimielitis sanagt cepat menular di daerah perumahan padat dan lingkungan kumuh. Ditandai dengan :

-Anak rewel, panas dan batuk, dua hari kemudian leher kaku, sakit kepala, otot badan dan kaki terasa kaku.

- Lumpuh anggota badan tetapi biasanya hanya satu sisi.

Penyakit ini dapat menyerang otot pernapasan dan otot menelan yang dapat menyebabkan kematian.

6. Penyakit Campak

Penyakit ini sangat menular dan menyerang hampir semua bayi.

Tanda-tanda campak :

- Badan panas, batuk, pilek, mata merah dan berair.

- Mulut dan bibir kering serta merah.

- Beberapa hari kemudian keluar bercak-bercak di kulit dimulai di belakang telinga, leher muka, dahi dan seluruh tubuh. Akibat lanjut dari penyakit ini adalah radang telinga sampai tuli,radang mata sampai terjadi kebutaan, diare dan menyebabkan radang paru-paru serta radang otak yang dapat menyebabkan kematian.

7. Hepatitis Virus B

Penyakit ini adalah penyakit menular yang menyerang semua umur.

Tanda-tanda :

- Mual, muntah serta nafsu makan menurun.

- Nyeri sendi, nyeri kepala dan badan panas.

IV. Jenis-Jenis Imunisasi

1. BCG     : memberi kekebalan pada penyakit TBC

2. DPT      : memberi kekbalan pada penyakit difteri, batuk rejan dan tetanus.

3. Polio     : memberi kekebalan pada penyakit poliomielitis.

4. Campak: memberi kekebalan pada penyakit campak.

5. H B      : memberi kekbalan pada penyakit hapatitis B

6. TT        : memberi kekebalan pada penyakit tetanus

7. DT       : memberi kekebalan pada penyakit difteri dan tetanus.

V. Sasaran Imunisasi

1. Bayi 0 – 9 bulan untuk imunisasi BCG, polio, DPT, HB, dan campak.

2. Anak SD kelas I untuk imunisasi DT.

3. Calon pengantin dan ibu hamil untuk imunisasi TT.

VI. Jadwal Pemberian Imunisasi

Jenis Imunisasi Waktu pemberian Kete
1. BCG, Polio I, DPT I

2. HB I, Polio II, DPT II

3. HB II, Polio III, DPT III

4. HB III, Polio IV,

Campak

5. DT

6. TT

umur 2 bulan

umur 3 bulan

umur 4 bulan

umur 9 bulan

untuk SD kelas I

untuk SD kelas VI

untuk Catin

untuk Bumil

khusus wanita

2x bila saat Catin hanya 1x

mohon maaf  jika urutan tabel agak  tdk sesuai

VII. Cara Pemberian Imunisasi

Pemberian imunisasi dapat diberikan secara suntikan maupun diteteskan ke dalam mulut.

1. BCG     : dengan suntikan ke dalam kulit pada lengan atas sebelah dalam.

2. DPT      : suntikan ke dalam otot di pangkal paha.

3. Campak : suntikan ke bawah kulit di lengan kiri atas.

4. HB        : suntikan pada lengan.

5. DT / TT: suntikan ke dalam otot pada lengan, paha ataupun punggung.

VIII. Kapan Imunisasi Tidak Boleh Diberikan

Keadaan-keadaan di mana imunisasi tidak dianjurkan :

1. BCG, tidak diberikan pada bayi yang menderita sakit kulit lama, sedang sakit TBC dan panas tinggi.

2. DPT, tidak diberikan bila bayi sedang sakit parah, panas tinggi dan kejang.

3. Polio, tidak diberikan bila diare dan sakit parah.

4. Campak, tidak diberikan bila bayi sakit mendadak dan panas tinggi.

IX. Keadaan-Keadaan Yang Timbul Setelah Imunisasi

Keadaan-keadaan yang timbul setelah imunisasi berbeda pada masing-masing imunisasi, seperti yang diuraikan di bawah ini.

1. BCG, dua minggu setelah imunisasi terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan, seterusnya timbul bisul kecil dan menjadi luka parut.

2. DPT, umumnya bayi menderita panas sore hari setelah mendapatkan imunisasi, tetapi akan turun dalam 1 – 2 hari. Di tempat suntikan merah dan bengkak serta sakit, walaupun demikian tidak berbahaya dan akan sembuh sendiri.

3. Campak, panas dan umumnya disertai kemerahan yang timbul 4 – 10 hari setelah penyuntikan.

X.  Tempat Pelayanan Imunisasi

Pelayanan imunisasi dapat diperoleh pada :

1. Posyandu

2. Puskesmas

3. Bidan / dokter praktek

4. Rumah bersalin

5. Rumah sakit

XI.  Perawatan Yang Diberikan Setelah Imunisasi

1. BCG, luka tidak perlu diobati tetapi bila luka besar dan bengkak di ketiak anjurkan ke puskesmas;

2. DPT, bila panas berikan obat penurun panas yang diperoleh dari posyandu dan berikan kempres dingin.

3. Campak, bila timbul panas berikan obat yang didapat dari posyandu.

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DIABETES MELITUS

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN DIABETES MELITUS

A.    Konsep Dasar

  1. Definisi

Diabetes Melitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, dengan tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya  insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000).

Gangren adalah proses atau keadaan  yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. ( Askandar, 2001 ).

Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai. ( Askandar, 2001).

  1. Anatomi Fisiologi

Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira – kira 15 cm, lebar  5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa  dan beratnya rata – rata 60 – 90 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung.

Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan (kepala) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan  embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus.

Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu :

(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.

(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.

Pulau – pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat hanya 1 – 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil adalah 50 m, sedangkan yang terbesar 300 m, terbanyak adalah yang besarnya 100 – 225 m. Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 – 2 juta.

Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu :

(1). Sel – sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20 – 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “ anti insulin like activity “.

(2). Sel – sel B ( betha ), jumlahnya sekitar 60 – 80 % , membuat insulin.

(3). Sel – sel D ( delta ), jumlahnya sekitar 5 – 15 %, membuat somatostatin.

Masing – masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel beta yang  normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin sehingga dianggap tidak berfungsi.

Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini dihubungkan oleh  dua jembatan ( perangkai ), yang terdiri dari disulfida. Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Insulin dapat larut pada pH 4 – 7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam membrana sel.

Insulin di sintesis sel beta pankreas dari proinsulin dan di simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat diatas 100 mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila kadar glukosa normal atau rendah, produksi insulin akan menurun.

Selain kadar glukosa darah, faktor lain seperti asam amino, asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama insulin untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui membran sel ke jaringan terutama sel – sel otot, fibroblas dan sel lemak.

  1. Etiologi
    1. Diabetes Melitus

DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :

  1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin.
  2. Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
  3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel – sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
  4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.
  5. Gangren Kaki Diabetik

Faktor – faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren kaki diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen.

Faktor endogen : a. Genetik, metabolik

b. Angiopati diabetik

c. Neuropati diabetik

Faktor eksogen :  a. Trauma

b. Infeksi

c. Obat

4. Patofisiologis

a. Diabetes Melitus

Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut:

  1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl.
  2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah.
  3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat  menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi.

Hiperglikemia yang lama  akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.

b. Gangren Kaki Diabetik

Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia, yaitu teori sorbitol dan teori glikosilasi.

  1. Teori Sorbitol

Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal  melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi.

2. Teori Glikosilasi

Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein, terutama yang mengandung senyawa lisin. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskular.

Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor – faktor disebutkan dalam etiologi. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki, sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. Angiopati akan menyebabkan terganggunya  aliran darah  ke kaki. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka  penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki di malam hari, denyut arteri hilang, kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi, oksigen (zat asam ) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin,1993). Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati, sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhdap penyembuhan atau pengobatan dari KD.

5. Klasifikasi

Wagner ( 1983 ) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan , yaitu :

Derajat 0      : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan

disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “.

Derajat I       : Ulkus superfisial terbatas pada kulit.

Derajat II      : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.

Derajat III     : Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis.

Derajat IV    : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis.

Derajat V      : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.

Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987) membagi gangren kaki menjadi dua golongan :

  1. Kaki Diabetik akibat Iskemia ( KDI )

Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati ( arterosklerosis ) dari pembuluh darah besar ditungkai, terutama di daerah betis.

Gambaran klinis KDI :

-   Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat.

-   Pada perabaan terasa dingin.

-   Pulsasi pembuluh darah kurang kuat.

-   Didapatkan ulkus sampai gangren.

  1. Kaki Diabetik akibat Neuropati ( KDN )

Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik, tidak ada gangguan dari sirkulasi. Klinis di jumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan, mati rasa, oedem kaki, dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik.

6. Dampak masalah

Adanya penyakit gangren kaki diabetik akan mempengaruhi kehidupan individu dan keluarga. Adapun dampak masalah yang bisa terjadi meliputi :

  1. Pada Individu

Pola dan gaya hidup penderita akan berubah dengan adanya penyakit ini, Gordon telah mengembangkan 11 pola fungsi kesehatan yang dapat digunakan untuk mengetahui perubahan tersebut.

  1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Pada pasien gangren kaki diabetik  terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak   gangren kaki diabetuk sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien.

  1. Pola nutrisi dan metabolisme

Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan  penderita.

  1. Pola eliminasi

Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada urine ( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.

  1. Pola tidur dan istirahat

Adanya poliuri, nyeri pada kaki yang luka dan situasi rumah sakit yang ramai akan mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu tidur penderita mengalami perubahan.

  1. Pola aktivitas dan latihan

Adanya luka gangren dan kelemahan otot – otot pada tungkai bawah menyebabkan penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita  mudah mengalami kelelahan.

  1. Pola hubungan dan peran

Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu dan menarik diri dari pergaulan.

  1. Pola sensori dan kognitif

Pasien dengan gangren cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya trauma.

  1. Pola persepsi dan konsep diri

Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh, lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga ( self esteem ).

  1. Pola seksual dan reproduksi

Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas maupun  ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme.

10. Pola mekanisme stres dan koping

Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif  berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain, dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.

11. Pola tata nilai dan kepercayaan

Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta luka pada kaki tidak menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi mempengaruhi pola ibadah penderita.

  1. Dampak pada keluarga

Dengan adanya salah satu anggota keluarga yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan muncul bermacam –macam reaksi psikologis dari kelurga, karena masalah kesehatan yang dialami oleh seorang anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Waktu perawatan yang lama dan biaya yang banyak akan mempengaruhi keadaan ekonomi keluarga dan perubahan peran pada keluarga karena salah satu anggota keluarga tidak dapat menjalankan perannya.

  1. Asuhan keperawatan

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien gangren kaki diabetik hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan.

Proses keperawatan adalah suatu metode sistematik untuk mengkaji respon manusia terhadap masalah-masalah dan membuat rencana keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah – masalah tersebut. Masalah-masalah kesehatan dapat berhubungan dengan klien keluarga juga  orang terdekat atau masyarakat. Proses keperawatan mendokumentasikan kontribusi perawat dalam mengurangi / mengatasi masalah-masalah  kesehatan.

Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

  1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses keperawatan yang mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu :

  1. Pengumpulan data

Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita , mengidentifikasikan,  kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapt diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan   fisik, pemerikasaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.

  1. Anamnese
    1. Identitas penderita

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis.

  1. Keluhan Utama

Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau, adanya nyeri pada luka.

  1. Riwayat kesehatan sekarang

Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.

  1. Riwayat kesehatan dahulu

Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit  lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas.  Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita.

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi, jantung.

  1. Riwayat psikososial

Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.

  1. Pemeriksaan fisik
    1. Status kesehatan umum

Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital.

  1. Kepala dan leher

Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.

  1. Sistem integumen

Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit di daerah  sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.

  1. Sistem pernafasan

Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.

  1. Sistem kardiovaskuler

Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau   berkurang, takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.

  1. Sistem gastrointestinal

Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.

  1. Sistem urinary

Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.

  1. Sistem muskuloskeletal

Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.

  1. Sistem neurologis

Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.

  1. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :

  1. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.

  1. Urine

Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata  ( ++++ ).

  1. Kultur pus

Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.

  1. Analisa Data

Data yang sudah terkumpul selanjutnya dikelompokan dan dilakukan analisa serta sintesa data. Dalam mengelompokan data dibedakan atas data subyektif dan data obyektif dan berpedoman pada teori Abraham Maslow yang terdiri dari :

  1. Kebutuhan dasar atau fisiologis
  2. Kebutuhan rasa aman
  3. Kebutuhan cinta dan kasih sayang
  4. Kebutuhan harga diri
  5. Kebutuhan aktualisasi diri

Data yang telah dikelompokkan tadi di analisa sehingga dapat diambil kesimpulan tentang masalah keperawatan dan kemungkinan penyebab, yang dapat dirumuskan dalam bentuk diagnosa  keperawatan meliputi aktual, potensial, dan kemungkinan.

  1. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/ masalah kesehatan. Aktual atau potensial dan kemungkinan dan membutuhkan  tindakan keperawatan untuk memecahkan masalah tersebut.

Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien gangren kaki diabetik adalah sebagai berikut :

  1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah  ke daerah gangren akibat adanya  obstruksi pembuluh darah.
  2. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas.
  3. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan.
  4. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.
  5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
  6. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah.
  7. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
  8. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
  9. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.

10. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.

  1. Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan penderita. Tahapan ini disebut perencanaan keperawatan yang meliputi penentuan prioritas, diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran dan tujuan, menetapkan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi dan aktivitas keperawatan.

  1. Diagnosa no. 1

Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.

Tujuan : mempertahankan sirkulasi  perifer tetap normal.

Kriteria Hasil : – Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler

- Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis

- Kulit sekitar luka teraba hangat.

- Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah.

- Sensorik dan motorik membaik

Rencana tindakan :

  1. Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi

Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah.

  1. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah  :

Tinggikan kaki sedikit lebih rendah  dari jantung  ( posisi elevasi pada waktu istirahat ), hindari penyilangkan kaki, hindari balutan ketat, hindari penggunaan bantal, di belakang lutut dan sebagainya.

Rasional : meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema.

  1. Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa :

Hindari diet tinggi kolestrol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan merokok, dan penggunaan obat vasokontriksi.

Rasional : kolestrol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis, merokok dapat menyebabkan terjadinya  vasokontriksi pembuluh darah, relaksasi untuk mengurangi efek dari stres.

  1. Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ).

Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren.

  1. Diagnosa no. 2

Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas.

Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka.

Kriteria hasil :               1.Berkurangnya oedema sekitar luka.

2. pus dan jaringan berkurang

3. Adanya jaringan granulasi.

4. Bau busuk luka berkurang.

Rencana tindakan :

  1. Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.

Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.

  1. Rawat luka dengan baik dan benar  : membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.

Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul, sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.

  1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan  kultur pus  pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik.

Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan, pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit.

  1. Diagnosa no. 3

Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan.

Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang

Kriteria hasil :  1.Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang/hilang .

2. Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi atau mengurangi nyeri .

3. Pergerakan penderita bertambah luas.

4. Tidak ada keringat dingin, tanda vital dalam batas normal.( S : 36 – 37,5 0C, N: 60 – 80 x /menit, T : 100 – 130 mmHg, RR : 18 – 20 x /menit ).

Rencana tindakan :

  1. Kaji tingkat, frekuensi, dan reaksi nyeri yang dialami pasien.

Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.

  1. Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri.

Rasional : pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan.

  1. Ciptakan lingkungan yang tenang.

Rasional : Rangasanga yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri.

  1. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.

Rasional : Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien.

  1. Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien.

Rasional : Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin.

  1. Lakukan massage dan kompres luka dengan BWC saat rawat luka.

Rasional :  massage dapat meningkatkan vaskulerisasi dan pengeluaran pus sedangkan BWC sebagai desinfektan yang dapat memberikan rasa nyaman.

  1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.

Rasional : Obat –obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien.

  1. Diagnosa no. 4

Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.

Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal.

Kriteria Hasil :  1.  Pergerakan paien bertambah luas

2. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk, berdiri, berjalan ).

3. Rasa nyeri berkurang.

4. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan.

Rencana tindakan :

  1. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.

Rasional : Untuk mengetahui derajat  kekuatan otot-otot  kaki pasien.

  1. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal.

Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan.

  1. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan.

Rasional : Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik.

  1. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.

Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi.

  1. Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi.

Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.

  1. Diagnosa no. 5

Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi

Kriteria hasil :    1. Berat badan dan tinggi badan ideal.

2. Pasien mematuhi dietnya.

3. Kadar gula darah dalam batas normal.

4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.

Rencana Tindakan :

  1. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.

Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.

  1. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.

Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia.

  1. Timbang berat badan setiap seminggu sekali.

Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ).

  1. Identifikasi perubahan pola makan.

Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan.

  1. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik.

Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

  1. Diagnosa no. 6

Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis) berhubungan dengan tinggi kadar gula darah.

Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi (sepsis).

Kriteria Hasil :  1. Tanda-tanda infeksi tidak ada.

2. Tanda-tanda vital dalam batas normal ( S : 36 – 37,50C )

3. Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal.

Rencana tindakan :

  1. Kaji adanya tanda-tanda penyebaran infeksi pada luka.

Rasional : Pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu menentukan tindakan selanjutnya.

  1. Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri selama perawatan.

Rasional : Kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk mencegah infeksi kuman.

  1. Lakukan perawatan luka secara aseptik.

Rasional  : untuk mencegah kontaminasi luka dan penyebaran infeksi.

  1. Anjurkan pada pasien agar menaati diet, latihan fisik, pengobatan yang ditetapkan.

Rasional : Diet yang tepat, latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya tahan tubuh, pengobatan yang tepat, mempercepat penyembuhan sehingga memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi.

  1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika dan insulin.

Rasional : Antibiotika dapat menbunuh kuman, pemberian insulin akan menurunkan kadar gula dalam darah sehingga proses penyembuhan.

  1. Diagnosa no. 7

Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.

Kriteria Hasil :  1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.

2. Emosi stabil., pasien tenang.

3. Istirahat cukup.

Rencana tindakan :

  1. Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.

Rasional : Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.

  1. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.

Rasional : Dapat meringankan beban pikiran pasien.

  1. Gunakan komunikasi terapeutik.

Rasional : Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.

  1. Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

Rasional : Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.

  1. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

Rasional : Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.

  1. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara   bergantian.

Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.

  1. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

Rasional : lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.

  1. Diagnosa no. 8

Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.

Kriteria Hasil : 1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.

2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.

Rencana Tindakan :

  1. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren.

Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.

  1. Kaji latar belakang pendidikan pasien.

Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.

  1. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.

Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

  1. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.

Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.

  1. Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada / memungkinkan).

Rasional : gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.

  1. Diagnosa no. 9

Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.

Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu anggota tubuhnya secar positif.

Kriteria Hasil : –  Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan. Tanpa rasa malu dan rendah diri.

-  Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki.

Rencana tindakan :

  1. Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri berhubungan dengan keadaan anggota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal.

Rasional : Mengetahui adanya rasa negatif pasien terhadap dirinya.

  1. Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien.

Rasional : Memudahkan dalm menggali permasalahan pasien.

  1. Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien.

Rasional : Pasien akan merasa dirinya di hargai.

  1. Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain.

Rasional : dapat meningkatkan kemampuan dalam mengadakan hubungan dengan orang lain dan menghilangkan perasaan terisolasi.

  1. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan.

Rasional : Untuk mendapatkan dukungan dalam proses berkabung yang normal.

  1. Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan hargai pemecahan masalah yang konstruktif dari pasien.

Rasional : Untuk meningkatkan perilaku yang adiktif dari pasien.

  1. Diagnosa no.10

Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.

Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi.

Kriteria hasil : 1. Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit.

2. Pasien tenang dan wajah segar.

3. Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup.

Rencana tindakan :

  1. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.

Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan tidur/istirahat.

  1. Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah.

Rasional : mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien.

  1. Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas, efek obat-obatan dan suasana ramai.

Rasional : Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain dialami dan dirasakan pasien.

  1. Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik  relaksasi .

Rasional : Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri.

  1. Kaji tanda-tanda kurangnya  pemenuhan kebutuhan tidur pasien.

Rasional : Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi  yang tepat dengan  selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan.

Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan tercapai:

  1. Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan.
  2. Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan.
  3. Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.